Keluarga Siswa Korban Pengeroyokan Desak Sekolah dan Kepolisian Segera Bertindak

oleh -4.853 views
oleh
Pengeroyokan
Korban saat menjalani visum di RSUD Praya

LOMBOKSATU.com – Kasus pengeroyokan salah seorang siswa SMKN Praya beberapa hari lalu berbuntut panjang.

Keluarga korban yang tidak terima atas kejadian tersebut, mendesak Polres Lombok Tengah segera menangkap para pelaku.

Hal serupa juga ditujukan kepada pihak Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Praya yang diduga merupakan sekolah asal para pelaku pengeroyokan agar segera memberikan tindakan tegas.

Informasi yang berhasil dihimpun wartawan, kasus pengeroyokan tersebut menimpa LF, siswa kelas X SMKN Praya asal Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut.

Kejadian berawal saat korban tengah menonton pertandingan futsal di Gor Lapangan PSLT Praya hari Rabu (18/10/2023) sekitar pukul 11.00 Wita.

Tanpa sebab yang jelas, korban yang saat itu duduk di baris bawah diduga diludahi oleh salah seorang pelaku.

Saat menoleh ke belakang, pelaku membentak korban dan menantang berkelahi. Korban yang kesal kemudian meladeni tantangan pelaku.

Apesnya, duel satu lawan satu yang diharapkan korban ternyata keliru. Di luar dugaanya, rekan-rekan pelaku ternyata telah menunggu di luar gedung.

Perkelahian yang tidak seimbang tersebut membuat korban babak belur. Bogem mentah, lemparan batu hingga hantaman benda tumpul mendarat di wajah dan sekujur tubuh korban.

Dua orang bertugas memegang korban, sementara beberapa pelaku lain menghajar dengan beringas yang membuat korban bercucuran darah.

Keluarga korban di Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut yang menerima laporan kemudian langsung melapor ke Polres Lombok Tengah setelah melakukan visum terlebih dahulu di RSUD Praya.

Setelah melapor ke Polres Lombok Tengah, keesokan harinya sejumlah keluarga korban mendatangi SMAN 4 Praya untuk mencari para pelaku dan meminta tindakan tegas dari pihak sekolah.

Di hadapan keluarga korban, pihak sekolah berjanji akan segera menindak dan mengeluarkan para pelaku dari sekolah.

Waka Kesiswaan SMAN 4 Lalu Muzani membenarkan bahwa para pelaku yang disebutkan namanya oleh keluaga korban adalah siswa SMAN 4 Praya.

Para pelaku saat ini duduk di kelas XII. Diakuinya juga bahwa para pelaku memang merupakan biang kerok yang selalu membuat onar di sekolah.

“Anak-anak inilah yang selalu buat onar. Sekarang kami punya alasan untuk mengeluarkan mereka dari sekolah,” kata Muzani.

Namun komitmen tersebut masih diragukan oleh keluarga korban. Pasalnya sampai saat ini para pelaku masih tetap masuk sekolah seperti tidak ada masalah. Hal memantik kemarahan keluarga korban.

Kakak korban, Lalu Prayogi mengaku kecewa dengan sikap lembek pihak sekolah. Hasil visum maupun video pengeroyokan seharusnya menjadi alasan kuat bagi SMAN 4 untuk mengambil tindakan tegas.

Namun yang terjadi saat ini terkesan berbanding terbalik. Pihak sekolah yang seharusnya bisa bersikap tegas justru terkesan pasang badan melindungi para pelaku.

Pihaknya khawatir hal ini akan merusak citra SMAN 4 Praya sebagai salah satu sekolah paforit di Lombok Tengah.

“Ini juga merupakan bentuk perhatian kami terhadap SMAN 4 Praya. Sayang sekali kalau ada anggapan sekolah paforit justru melindungi para berandal, ini kan kurang baik,” tegasnya.

Dalam persoalan ini pihaknya mengaku bisa saja bertindak sepihak. Hanya saja sebagai orang yang berpendidikan, pihaknya tetap menekankan agar persoalan ini diselesaikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Rekan-rekan kepolisian juga harus peka, jangan lelet. Kalau hukum negara sudah tidak mempan, apa perlu kami pakai hukum rimba, jangan sampai seperti itu lah,” harapnya.

Untuk itu pihaknya mendesak pihak kepolisian agar lebih peka dalam menyikapi setiap laporan warga. Jangan justru dibiarkan berlarut-larut yang nantinya akan membuat persoalan semakin runyam. (Dar)