Ngayu-Ayu di Sembalun: Tradisi Sakral Warisan Papuk Baloq Masyarakat Gumi Lombok

oleh -1.357 views
oleh
ritual
Prosesi tradisi Ngayu-ayu di Sembalun Lombok Timur

LOMBOKSATU.com – Tradisi Ngayu Ayu kembali digelar khidmat di Desa Sembalun, Lombok Timur. Ritual yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali ini bukan sekadar pesta budaya, melainkan sarat dengan doa, tuntunan, dan harapan yang diwariskan papuk baloq (leluhur) masyarakat Gumi Paer Lombok.

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin menyampaikan pentingnya generasi muda untuk tidak hanya hadir dan mengikuti prosesi Ngayu-ayu, tetapi juga mewarisi, melestarikan, dan mengimplementasikan nilai-nilainya di masa mendatang.

“Ngayu-ayu menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan isinya. Tidak heran jika masyarakat Sembalun hidup makmur tanpa ada yang masuk kategori miskin. Tradisi ini adalah wujud nyata pelestarian adat budaya,” ungkap Bupati, Jumat (18/07/2025).

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang tetap setia menjaga adat dan budayanya, serta berterima kasih kepada tamu undangan, termasuk Gubernur NTB, tokoh adat, hingga raja dan ratu dari berbagai daerah di Nusantara.

Sementara itu, Gubernur NTB H. Lalu Muhammad Iqbal yang hadir bersama Ketua TP PKK Provinsi NTB menilai Ngayu Ayu sebagai ungkapan syukur atas kemakmuran dan kesejahteraan yang dianugerahkan Allah SWT.

Iqbal juga menyebut tradisi ini sebagai suatu penghormatan kepada Gunung Rinjani dan bentuk tradisi menjaga keseimbangan alam. “Tradisi ini harus terus dilestarikan sebagai identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat Sembalun,” ujarnya.

Prosesi Sakral Ngayu-ayu

Tradisi yang penuh makna ini diawali dengan pengambilan air dari 13 mata air oleh para pemangku adat untuk dikumpulkan di Berugak Desa Sembalun Bumbung. Air tersebut dipercaya sebagai simbol kehidupan yang kemudian digunakan dalam seluruh rangkaian ritual.

Ritual dilanjutkan dengan pembacaan lontar oleh para Pujangga Sasak serta sesampang atau pemberitahuan kepada leluhur dan penguasa alam. Setelah itu dilakukan penyembelihan kerbau yang kepalanya dikubur sebagai pantek atau pasak bumi bagi Sembalun dan Lombok Timur.

Keesokan harinya, air suci dari berugak desa diarak menuju lapangan upacara adat. Prosesi ini diiringi tarian Tandang Mendet yang sarat makna spiritual, diikuti para pemuka adat dan masyarakat.

Puncak acara adalah mapakin, silaturahmi adat antara para sesepuh dan tamu undangan. Tiga prosesi lempar ketupat kemudian digelar sebagai simbol kesempurnaan shalat lima waktu, kesempurnaan bulan purnama, dan pengakuan atas 25 Nabi dan Rasul.

Ritual Penutup

Ngayu-ayu ditutup dengan prosesi unik bernama Perang Pejer, sebuah perang simbolis sebagai penolak bala. Usai perang, seluruh air dari 13 mata air ditumpahkan di Kali Pusuk, melambangkan penyatuan unsur bumi, air, hutan, dan seluruh komponen alam.

Tradisi Ngayu-ayu bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pesan moral dan spiritual tentang hubungan harmonis manusia dengan alam. Di balik meriahnya prosesi, tersimpan doa dan harapan agar Sembalun senantiasa makmur, damai, serta terhindar dari mara bahaya.