Nyelamak Dilauk: Tradisi Masyarakat Tanjung Luar dalam Merawat Kearifan Maritim

oleh -916 views
oleh
nyelamak
Bupati Lombok Timur Haerul Warisin menghadiri ritual Nyelamak Dilauk

LAUT selalu punya cerita. Bagi masyarakat Tanjung Luar, cerita itu bernama Nyelamak Dilauk, ritual sakral untuk bersyukur dan memohon keselamatan. Tak sekadar tradisi, ritual ini menjadi simbol masyarakat Bajo merawat kearifan maritim. Pemerintah daerah pun mendukung penuh agar Nyelamak Dilauk terus bergema hingga mancanegara.

Nyelamak Dilauk, festival bahari warisan leluhur, menjadi pengingat bahwa laut bukan semata ladang ekonomi, tetapi ruang suci yang harus dihormati. Konteks sejarah, tradisi Nyelamak Dilauk tidak muncul dalam semalam. Ia tumbuh dari akar sejarah panjang masyarakat Bajo, kelompok etnis pelaut.

Orang Bajo memiliki hubungan yang sangat erat dengan laut, bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi sebagai ruang spiritual yang penuh nilai sakral. Dalam kehidupan sehari-hari, laut menjadi tumpuan hidup, namun dianggap memiliki “penjaga” yang harus dihormati agar tidak membawa bencana.

Nyelamak Dilauk berarti “menyelamatkan laut” atau “keselamatan laut.” Dalam ritualnya, masyarakat melarung kepala kerbau ke tengah laut sebagai bentuk persembahan kepada penjaga laut. Kepala kerbau dianggap lambang pengorbanan tertinggi bagi nelayan. Ritual ini menjadi bentuk syukur atas hasil tangkapan laut yang melimpah.

Menurut cerita para tetua, ritual ini telah berlangsung turun-temurun sejak masa kolonial Belanda. Dahulu, pelaksanaan Nyelamak Dilauk lebih sederhana dan bersifat tertutup. Namun seiring waktu, terutama sejak awal 2000-an, ritual ini mulai diangkat ke ranah publik sebagai festival budaya.

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melihat potensi Nyelamak Dilauk sebagai daya tarik wisata budaya sekaligus pelestarian kearifan lokal. Pada 2024, festival ini resmi dijadikan salah satu agenda pariwisata tahunan Lombok Timur.

Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin mengatakan promosi merupakan salah satu aspek yang tidak boleh ditinggalkan untuk memajukan pariwisata. “Promosi ini sangat penting agar dikenal dan mendapat perhatian wisatawan,” ujar Warisin saat opening Ceremony Festival Bahari NyelamakDilauk, Rabu (09/07/2025).

Bupati mengapresiasi masyarakat Tanjung Luar atas keteguhan mereka dalam menjaga tradisi  Nyalamak Dilauk hingga saat ini. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung event tersebut. Ia berharap Nyelamak Dilauk semakin meriah dan dikenal luas masyarakat.

Menurut Bupati, ritual adat Nyelamak Dilauk bukan sekadar ekspresi budaya, tetapi wujud rasa syukur, doa harapan, serta upaya penting dalam melestarikan ekosistem laut. Selain dukungan terhadap acara adat melalui pendanaan dan pembinaan, bupati juga berjanji akan membenahi fasilitas yang menjadi kebutuhan masyarakat Tanjung Luar dan sekitaranya.

Kebutuhan itu, seperti stasiun pengisian bahan bakar bagi nelayan (SPBN) dan membangun tanggul untul mencegah banjir rob yang sering terjadi. Bupati Warisin tidak hanya membuka rangkaian kegiatan Nyelamak Dilauk, melainkan berlanjut hingga ngaririq atau menuntun kerbau yang akan disembelih berkeliling desa.

Puncak upacara melepas kepala kerbau yang diletakkan di rakit kecil (rakik dikkik) tepat di atas gugusan terumbu karang cincin yang letaknya kira-kira 150 meter dari dermaga perikanan ke arah tenggara.