Festival Teluk Kayangan: Balap Sampan sebagai Simbol Hidupnya Tradisi Maritim

oleh -682 views
oleh
Festival
Bupati Lombok Timur Haerul Warisin membuka Festival Teluk Kayangan Labuhan Lombok

TELUK KAYANGAN pagi itu tak seperti biasanya. Pesisir di kawasan Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, tampak lebih ramai, lebih hidup. Udara dipenuhi aroma segar bercampur semangat para nelayan yang hari itu bukan turun melaut, melainkan turun ke arena lomba.

Tampak sampan tradisional berjajar rapi di bibir teluk, siap berpacu dalam gelaran Festival Teluk Kayangan 2025. Bagi masyarakat sekitar, balap sampan bukan sekadar lomba adu cepat. Ia adalah panggung kebanggaan, bentuk perayaan atas hubungan manusia dengan laut, sekaligus cara menjaga tradisi agar tak larut dalam arus zaman.

Lomba ini menjadi tontonan langka, paduan antara budaya, olahraga, dan panorama alam pesisir yang eksotis membuat pengunjung terlihat mengabadikan momen dengan ponsel mereka. Barisan sampan beraneka warna melaju di tengah birunya laut. Tersedia pula berbagai kuliner, menjadikan festival ini bukan hanya hiburan, tapi ruang pemberdayaan ekonomi kreatif masyarakat pesisir.

Di tengah keindahan pantai dan semangat gotong royong, lomba ini menjelma sebagai simbol hidupnya tradisi maritim masyarakat pesisir Desa Labuhan Lombok, NTB. Di tengah keterbatasan, semangat dan kemandirian panitia Festival Teluk Kayangan berhasil menyulut apresiasi dari Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin.

Sebelum melepas peserta balap sampan di Teluk Kayangan pada Ahad (6/7/2025), Bupati menyebut festival ini sebagai bukti bahwa kerja keras dan kebersamaan bisa menggerakkan potensi wisata lokal. “Apresiasi dan penghargaan serta kebanggaan kepada panitia. Tidak gampang melaksanakan festival tanpa semangat,” ungkapnya.

Bupati juga menyebut balap sampan serupa juga dilaksanakan di beberapa kawasan nelayan lainnya di Lombok Timur dengan penuh semangat kebersamaan. Ia menyebutkan, Pemda Lombok Timur baru memasukkan satu event balap sampan dalam agenda pariwisata Lombok Timur yaitu di Teluk Ekas Kecamatan Jerowaru yang berpotensi untuk dikembangkan.

Festival kali ini merupakan penyelenggaraan tahun ke empat ini dijadwalkan  berlangsung hingga 13 Juli mendatang. Selain promosi potensi maritim, kegiatan ini juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat setempat melalui pelibatan UMKM.

Lebih lanjut ia menyinggung keberadaan Rusunawa yang berada di kawasan Teluk Kayangan agar bisa ditempati masyarakat nelayan sekitar dengan sewa yang tidak membebani masyarakat.

“Pemda tidak akan memungut baiya mahal, yang penting terisi semua,” jelasnya. Pemda bersama pemerintah pusat akan membangun permukiman di wilayah padat penduduk seperti Masbagik, Sikur, termasuk Labuhan Lombok.

Warisin menyemangati panitia dan masyarakat agar dapat memanfaatkan lokasi tersebut dan konsisten menggelar festival. “Terima kasih yang sudah hadir hari ini, terus berkoordinasi dan bekerja sama,” pesannya.