Pengelolaan dana Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Lombok Tengah (Loteng) Provinsi NTB mulai mendapat sorotan masyarakat. Tidak terkecuali para aktivis pergerakan, juga mulai ikut bersuara.
Oleh: Darwis – Lombok Tengah
Aktivis senior Lombok Tengah, Lalu Tajir Syahroni pada wartawan, Senin (06/02/2023) mengatakan, banyaknya pertanyaan bahkan keluhan masyarakat saat ini adalah akibat dari minimnya informasi seputar kegiatan Baznas itu sendiri.
Ia menjelaskan, informasi tentang Baznas nyaris tidak ada. Jangankan masyarakat awam, para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang setiap bulan menyetor uang ke Baznas, terkadang tidak banyak tahu tentang “Dapur” Baznas Lombok Tengah.
Akibatnya, lama kelamaan, hal tersebut membuat mereka penasaran. Ditambah lagi dengan adanya polemik zakat profesi baru-baru baru ini, membuat rasa ingin tahu masyarakat semakin kuat.
Tidak menutup kemungkinan hal tersebut berubah menjadi curiga. “Menurut saya ini wajar. Karena sesuatu yang terlihat masih samar samar tentu akan membuat kita penasaran,” kata Tajir di Praya.
Jika dilihat dari luar, Baznas Lombok Tengah memang terlihat sangat rapi dan nyaris tanpa cela. Tapi jika masuk lebih dalam, tidak menutup kemungkinan banyak masalah yang tersembunyi dan tersimpan rapi di dalam gedung Baznas Lombok Tengah.
“Untuk mengetahui persoalan di dalamnya tergantung kita. Kalau kita ingin melihat lembaga ini baik, tentu kita harus ikut menjaganya. Tidak cukup dengan melihat dari luar, sesekali kita juga perlu masuk ke dalam agar suara kita bisa didengar lebih jelas oleh orang-orang yang ada di dalamnya,” kata Tajir.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sebagai lembaga yang medapat dukungan penuh pemerintah, Baznas diberikan kepercayaan besar dalam mengatur dana umat yang jumlahnya sangat besar.
Sebagai gambaran kata Tajir, dari potongan gaji PNS saja, dana yang bisa dikumpulkan mencapai miliaran rupiah setiap bulannya. Belum lagi hibah dari pemerintah daerah dan sumbangan para donatur menjadikan Baznas sebagai salah satu lembaga pemerintahan yang mengelola anggaran paling fantastis.
“Dana yang dikelola Baznas Lombok Tengah mencapai puluhan milyar setiap tahun. Pertanyaannya sekarang uang sebanyak itu dipakai untuk apa saja,” tanya Tajir.
Namun jika mencermati informasi dan keluahan masyarakat selama ini, menurutnya patut dicurigai bahwa pengelolaan dana umat yang begitu besar tersebut bermasalah. Pihaknya menduga peruntukan dana Baznas belum belum sepenuhnya tepat sasaran.
Dana Baznas seharusnya untuk santunan anak yatim, fakir miskin, pembangunan sarana ibadah dan lebih fokus pada kegiatan ibadah dan religius lainnya justru diduga kerap dipakai untuk mensuport kegiatan lembaga non keagamaan yang sebenarnya tidak selayaknya dibiayai Baznas.
“Banyak yang menurut kami tidak tepat sasaran. Tapi tidak pas rasanya kalau kita beberkan di media massa. Karena tujuan kami hanya untuk meluruakan, bukan menjelekkan pihak manapun,” jelasnya.
Selain itu sosialisasi kegiatan, dinilai masih sangat kurang. Kalaupun ada photo kegiatan di media sosial, terkadang hanya sekedar photo selfi saja. Itupun tidak rutin melainkan hanya pada kegiatan tertentu saja.
Seharusnya kata Tajir, dengan dana kas yang begitu besar, informasi seluruh program Baznas mulai saat perencanaan sampai pelaksanaan kegiatan yang terkecil di lapangan sekalipun, seharusnya dibuka seluas luasnya ke publik.
Bila perlu kata Tajir, papan informasi yang memuat detil kegiatan Baznas dipampang di seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) bahkan sampai desa/kelurahan. Dengan harapan, masyarakat yang selama ini rutin bayar zakat tahu kemana uang mereka digunakan.
Menurutnya hal ini juga penting untuk menghindari timbulnya prasangka buruk terhadap Baznas Lombok Tengah selaku pemegang amanat masyarakat.
Sebenarnya lanjut Tajir, keluhan masyarakat seputar pengelolaan dana Baznas Lombok Tengah sudah ada sejak lama. Hanya saja banyak masyarakat masih segan menyampaikan keluh kesah atau uneg-uneg mereka karena hampir seluruh komisioner Baznas mulai dari ketua umum sampai jabatan terendah merupakan tokoh agama mulai tuan guru sampai ustadz.
Paling tidak mereka adalah tokoh yang dikenal religius dan terpandang, sehingga masyarakat segan untuk bersuara. Secara pribadi pihaknya meyakini orang-orang yang ada di Baznas Lombok Tengah merupakan para tokoh yang sudah teruji kejujujuran dan bertanggung jawab
Tapi itu saja tidak menjamin Baznas akan tetap bersih dan bebas dari penyimpangan. Karena sejujur dan sebersih apapun, mereka tetaplah manusia biasa yang suatu saat bisa klilaf dan melakukan kesalahan.
Untuk memastikan dan menjaga marwah Baznas Lombok Tengah, saran, masukan ataupun kritikan masyarakat sangat dibutuhkan. Sebaliknya jika masyarakat diam, pengelolaan Baznas bisa kebablasa dan tidak menutup kemungkinan kedepan Baznas akan menjadi lembaga yang paling “kotor” di daerah ini.
Jika sudah demikian, kepercayaan umat terhadam lembaga keagamaan atau tokoh tentu akan terkikis dengan sendirinya. Untuk itu kedepan pihaknya berharap agar Baznas lebih terbuka. Begitu juga Aparat Penegak Hukum (APH) agar meningkatkan pengawasan dan memberikan masukan jika menemukan kekeiruan.
“Ini adalah bentuk cinta kasih kami terhadap Baznas khususnya para guru-guru kami yang ada di dalamnya. Kami berharap keluhan-keluhan kami ini bisa didengar dan menjadi bahan perbaikan kedepan. Kami berharap Baznas segera berbenah ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua II Baznas Lombok Tengah, Ustadz Maarif mengatakan bahwa pengelolaan dana Baznas tidak ada masalah karena dilasanakan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Ia menjelaskan, dana yang terkumpul setiap bulan di Baznas berjumlah Rp 1,1 miliar. Khusus dana zakat, disalurkan ke 8 (delapan) golongan yang sudah ditetapkan dalam syariat Islam. Sedangkan untuk membantu kegiatan-kegiatan keagamaan atau untuk kemaslahatan umat, yang digunakan adalah dana infak sedekah.
“Siapapun yang meminta pasti kita layani selama memenuhi syarat yang ditentukan,” kata Maarif via handphone, Selasa (07/02/2023).
Sedangkan anggapan bahwa dana Baznas digunakan untuk mensupport kegiatan politik, sama sekali tidak benar. Karena sejauh ini tidak pernah ada dana Baznas yang keluar untuk keperluan politik pihak manapun karena hal itu jelas tidak diperbolehkan.
Hanya saja, penyaluran sumbangan dana Baznas kadang bertepatan dengan momen politik seperti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Sehingga ada kesan seaka akan Baznas menjadi “alat” polititik, padahal semua itu sama sekali tidak benar.
Sementara itu, penggunaan dana umat di Baznas Lombok Tengah sudah sangat transparan. Setiap rupiah yang keluar dari kas Baznas harus dipertang gungjawabkan dan diawasi secara ketat. Dalam hal ini ada tiga macam pelaporan yang dijalankan Baznas Lombok Tengah.
Laporan keuangan satu kali setahun yang sudah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP). Kedua laporan kinerja rutin setiap tiga bulan sekali dan terakhir, laporan pengelolaan zakat yang disampaikan ke Bupati, Baznas Provins dan Baznas pusat. “Terimakasi atas perhatiannya,” pungkasnya.





