PDAM Loteng Respon Keluhan Warga Penujak

oleh -82 views
Jajaran Direksi PDAM Loteng saat turun bersama pemerintah desa ke WTP Penujak
Jajaran Direksi PDAM Loteng saat turun bersama pemerintah desa ke WTP Penujak

LOMBOKSATU.com – Keluhan warga terkait pencemaran limbah pembuangan Water Treatment Plant (WTP) Penujak Kecamatan Praya Barat langsung direspon jajaran direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Thirta Rinjani Lombok Tengah.

Kamis (07/10/2021), pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PDAM bersama jajarannya turun langsung ke Desa Penujak untuk melihat langsung kondisi real di lapangan.

Tidak hanya itu, perwakilan Polda NTB, Pemerintah Desa Penujak, perwakilan LSM Fakta NTB dan para tokoh setempat juga ikut turun dan membahas persoalan tersebut bersama jajaran PDAM.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Penujak Lalu Suharto mengatakan, persoalan limbah pembuangan WTP Penujak sudah terjadi bertahun-tahun. Parahnya lagi, keluhan warga selalu mengarah pada pemerintah desa yang terkesan sengaja melakukan pembiaran terhadap persoalan tersebut.

Bahkan kata Kades, tidak sedikit warga yang mengarahkan tudingan miring kepada dirinya atas persoalan tersebut. “Saya dituduh terima fee agar diam, tapi saya selalu sabar,” kata Kades.

Menurut Kades, sebelum ada limbah, sungai, warga memanfaatkan untuk berbagai keperluan. Namun sejak beberapa tahun terakhir, air sungai yang sebelumnya jernih menjadi sangat keruh dan berbusa. Hal ini membuat warga khawatir, jangan sampai membahayakan kesehatan warga.

Lebih lanjut ia menjelaskan, tahun 2018 pihak PDAM berjanji akan menyelesaikan persoalan ini. Sayangnya, janji manis PDAM pada tahun 2018 lalu tidak pernah terealisasi.

Untuk itu, Kades dua periode tersebut berharap untuk kali ini jajaran PDAM Lombok Tengah lebih serius menyelesaikan persoalan tersebut.

Sementara itu Plt Direktur Utama PDAM,
Bambang Supratomo berjanji akan segera menyelesaikan persoalan ini. Menurut Bambang, limbah WTP yang mengalir ke sungai Penujak tidak berbau dan tidak berbahaya. Namun demikian, warna air dan endapan lumpur akibat limbah tersebut memang sangat merendahkan.

Selain tidak bisa untuk keperluan mandi dan bercocok tanam, limbah tersebut juga akan berdampak pada sektor pariwisata.

Sebagai salah satu desa wisata, Penujak tentu akan menjual berbagai potensinya, baik kerajinan gerabah ataupun kebersihan dan keindahan alamnya. Tapi di sisi lain, lingkungan yang menjadi harapan destinasi wisata justeru terlihat kumuh dan tidak sehat.

Sejauh ini pihaknya yakin jajaran direksi PDAM yang sebelumnya sudah berupaya maksimal. Hanya saja kondisi keuangan PDAM yang serba pas-pasan menjadi kendala utama sehingga direksi sebelumnya tidak bisa berbuat banyak mengatasi persoalan ini.

Kendati demikian kata Bambang, beberapa waktu lalu pihak PDAM telah meminta dana hibah sebesar Rp 21 miliar ke Word Bank (Bank dunia). Dana tersebut untuk melakukan perbaikan menyeluruh di WTP Penujak, termasuk penanganan limbah.

Ia mengaku belum ada jawaban, namun segala persyaratan Word Bank sudah terpenuhi oleh pihak PDAM. “Kita masih menunggu, mudah mudahan diterima,” harapnya.

Sembari menunggu jawaban Word Bank, pihaknya berharap ada solusi jangka pendek yang bisa terlaksana dalam waktu dekat dengan anggaran yang terjangkau.

Setelah melalui musyawarah, pihak PDAM, pemerintah desa, kepolisian dan para tokoh sepakat membuat bak penampungan limbah sementara di tahun 2022.

Namun sebelum pelaksanaan, rencana tersebut, pihak PDAM akan melaporkan persoalan ini ke bupati. “Kita akan bahas ini lebih lanjut bersama semua pihak. Yang jelas ini harus tuntas,” pungkasnya. (Dar)

No More Posts Available.

No more pages to load.