Menakar Kualitas Kesejatian Ilmu Melalui Tingkat Spiritual

oleh -295 views

OLEH: AHYAR ROSYIDI (Pengajar di STIT NU Almahsuni Lombok Timur – NTB)

Ilmu pengetahuan tak lebih dari sekadar menjelaskan tentang bagaimana keadaan alam pada diri manusia, alam dunia, dan alam akhirat. Padahal yang terpenting saat ini, orang-orang bijak sering kali menyebutnya dalam bahasa kekinian sebagai makrokosmos dan mikrokosmos atau alam kecil dan alam besar (alam diri dan alam dunia). Seseorang dapat Naik satu tingkat atau satu level ilmu pengetahuannya mengenai hal tersebut di atas, tentunya ditandai dari tidak sekedar pemahamannya berada pada tataran simbol saja, namun berada pada tataran 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 dan 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪-𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 dari simbol-simbol yang terhampar luas di dalam alam diri dan alam dunia.

Kedalaman dan ketajaman ilmu pengetahuan dalam memahami kedua keadaan alam tersebut di atas, tentu sangatlah dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan seseorang, sehingga melalui pengetahuan tersebut akan menjadi suatu dorongan seseorang untuk berbuat sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Orang yang banyak memiliki ilmu pengetahuan tentang bisnis, tentu akan cenderung meletakkan kiprah hidupnya dalam berbisnis, demikian juga halnya ilmu-ilmu yang lain dapat mengantarkan kita menjadi jalan untuk menempuh hidup kita.

Dari hal di atas, tentunya keilmuan juga menjadi sarana Alloh dalam memberikan rezeki dan juga ujian dalam hidup seseorang. Tak sedikit dari orang yang tingkat keilmuannya begitu luas dan tinggi, justru arah hidupnya menderita. Keilmuannya tak dapat memberikan manfaat untuk orang lain dan bahkan lebih tragisnya, ilmunya tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Untuk itu, setidaknya ada 3 (tiga) hal utama yang perlu diperhatikan yakni:

1. Ilmu itu haruslah “𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨” maknanya seberapa pun besar ilmu yang kita punya, janganlah kita tampakkan sebagai suatu kesombongan dan menjadikannya tameng dalam mencari pembenaran pada diri sendiri, dan “𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪” yang mengandung makna merunduk seperti padi, seolah-olah engkau dianggap tak punya ilmu oleh orang lain, namun disisi yang lain sesungguhnya engkau penuh dengan lautan ilmu yang seluas samudra.

2. Haruslah menukik ke dalam bukan menjulang tinggi ke langit. Kedalaman ilmu akan mengantarkan seseorang untuk menembus lebih dalam hakikat dari ilmu pengetahuan itu sendiri, sehinnga dengan memahami esensi dari suatu keilmuan akan mengarahkan manusia memiliki kesadaran dan kehidupan yang lebih arif dan bijaksana.

Kecendrungan manusia saat ini, lebih menitikberatkan pada ketinggian ilmu yang justru dijadikan sebagai tameng untuk mencari pembenaran diri, pembelaan diri, dan menjadikan orang itu punya sifat angkuh dan sombong. Ketinggian ilmu ini juga dijadikan sarana kerakusan manusia untuk meraih popularitas, menumpuk harta kekayaan dengan jalan yang tak benar dan menjadikannya penguasa zalim di atas dunia ini.

3. Pada bagian ini, sering kali dilupakan oleh kita semua yakni “spiritual” yang menjadi gambaran keadaan suasana bathin seseorang. Sebagaimana dalam konsep makrifat, gerak atau perilaku dibahas pada bab pertama tauhidul Ap’al yakni keesaan tentang perbuatan Tuhan.

Perilaku manusia pada dasarnya merupakan buah dari ilmu pengetahuan yang dimiliki setiap orang, namun ilmu pengetahuan itu sendiri juga tak berdiri sendiri dalam membentuk perilaku manusia melainkan dipengaruhi juga oleh tingkat spiritual yang menjadi gambaran suasana bathin atau kejiwaan seseorang (rasa).

Banyak orang yang menyebut rasa di balik rasa. Namun hanya segelintir orang yang telah sampai ditingkat atau makom rasa itu sendiri.  Lebih dalamnya, rasa dalam konsep makrifat disebut sebagai wilayah sidratul muntaha pada diri manusia yakni menjadi batas wilayah ketuhanan dan kehambaan.

Disisi lain, rasa juga menjadi wadah atau tempat bersandarnya rahasia yang menjadi sandaran pendakian orang-orang spiritual. Rasa dalam diri manusia adalah hasil dari sifat kudrat dan iradat-Nya dan denganya pula menentukan arah dari kebijakan suatu ilmu pengetahuan untuk menentukan terjadinya sisi positif dan negatif dalam perilaku (ilmu hitam dan ilmu putih).

Kesucian dari perasaan yang positif cenderung membawa arah berfikir yang positif, sebaliknya orang yang memiliki kegersangan jiwa akan cenderung berfikir dan berperilaku negatif, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi yang artinya: “Dalam diri kita ada segumpal daging, bila daging itu baik maka baik pula amal ibadah seseorang dan seterusnya”.

Untuk itu, manakala seseorang berfikir untuk melakukan sesuatu maka haruslah terlebih dahulu menyelami jiwanya agar terbebas dari hawa nafsu atau pikiran-pikiran kotor dan hal ini tidak akan dicapai, kecuali orang-orang yang sudah terbiasa mendamaikan perasaannya.

Untuk mendapatkan kesucian bathin, dalam spiritual haruslah mengambil contoh dari para nabi, para ulama dan menjadikan rentetan episode-episode dalam sejarah orang-orang suci menjadi panutan dalam hidupnya,
orang yang memiliki kesucian bathin akan menentukan tingkat kebijaksanaan dari ilmu seseorang dalam membedakan mana sikap atau perilaku yang baik dan buruk.

Selain itu, akan muncul juga satu kecakapan dalam menuntun beragam irama menjadi satu kesatuan irama yang indah yakni agama, undang-undang, budaya, adat istiadat dan sumber lainnya yang saling topang satu dengan yang lainnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.