Wamen Stella Hadiri Groundbreaking ITSRC di Ekas Buana

oleh -398 views
oleh

LOMBOKSATU.com — Pembangunan pusat riset rumput laut tropis di Desa Ekas Lombok Timur, bukan sekadar kegiatan simbolik, melainkan langkah strategis untuk menguasai ekonomi berbasis sains di tingkat global.

Peletakan batu pertama (groundbreaking) International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) menjadi bagian konkret menuju cita-cita Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiksaintek) Stella Christie yang hadir di lokasi mengatakan setiap inovasi ekonomi besar di dunia selalu berangkat dari riset ilmiah yang kuat.

Karena itu, pemerintah melalui Kemdiksaintek tidak ingin pembangunan pusat riset ini berhenti pada seremoni, tetapi diarahkan untuk membentuk ekosistem industri rumput laut yang berkelanjutan.

“Peletakan batu pertama ini bukan seremonial. Kami sudah menggandeng industri nasional agar terbentuk ekosistem rumput laut dari hulu sampai hilir. Riset harus berdampak pada pendapatan dan perekonomian masyarakat,” tegas Stella, Kamis (13/02/2026).

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah melibatkan dua institusi riset kelas dunia, yakni Universitas California, Berkeley dan Beijing Genomic Institute, untuk memperkuat pengembangan sains rumput laut tropis di Indonesia.

Langkah kolaboratif tersebut menjadi fondasi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam industri hilirisasi rumput laut yang bernilai tinggi.

Stella memaparkan saat ini Indonesia telah menguasai sekitar 75 persen pasar rumput laut tropis dunia, dengan nilai ekonomi mencapai sekitar USD 12 miliar atau hampir Rp 200 triliun, dan diperkirakan akan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi pengolahan.

Produk turunan rumput laut kini tidak hanya terbatas pada pangan, tetapi merambah sektor pupuk, plastik ramah lingkungan, hingga bahan bakar alternatif seperti bio-avtur.

“Jika Indonesia tidak membangun riset sains dan teknologi sekarang, kita tidak akan kebagian dari ribuan triliun rupiah perputaran ekonomi global ke depan,” ujarnya menekankan.

Ia pun mengajak masyarakat sekitar untuk mendukung penuh aktivitas riset yang akan berlangsung di kawasan tersebut, karena keberhasilan pusat riset ini sangat bergantung pada keterlibatan lingkungan lokal sebagai bagian dari ekosistem industri rumput laut nasional.