DANA pembangunan Masjid Agung Praya banyak mendapat dukungan anggaran besar dari pemerintah daerah. Namun dengan dukungan yang begitu besar, bangunan Masjid Agung Praya dinilai kalah megah dengan masjid di desa-desa yang hanya mengandalkan sumbangan orang lewat di jalan.
DARWIS – LOMBOK TENGAH
Rabu (12/04/2023), cuaca di Lombok Tengah cukup terik. Namun di tengah panas yang begitu menyengat. Namun terlihat di salah satu ruas jalan beberapa orang justru berdiri di tegah jalan aspal panas. Satu orang terlihat duduk di tengah jalan dengan kursi plastik sambil menyapa para pengendara yang lalu lalang di jalur tersebut.
Sementara satunya lagi menenteng kardus bekas air kemasan. Tampak di dalam kardus beberapa lembar uang lecek. Mulai dari uang 50 ribu sampai uang koin 500 rupiah, tertumpuk di dalam kardus.
Ternyata kedua orang tersebut tengah melakukan penggalangan dana untuk pembangunan masjid di wilayah mereka. Dan rutinitas tersebut ternyata sudah dilakukan setahun terakhir.
Hal yang sama juga terlihat di jalur Praya Mantang tepatnya di Desa Barabali. Di jalur tersebut, aksi minta minta sumbangan masjid sudah menjadi pemadangan biasa bagi para pengendara.
Di tengah jalan berkelok dan terbilang cukup ektrem, warga terlihat begitu sabar dan bersemangat menunggu uluran tangan para pengguna jalan. Nyaris tidak terlihat sedikitpun rasa lelah di wajah mereka, kendati apa yang mereka lakukan itu sangat beresiko.
Bagaimana tidak, jalur yang ekstrem seringkali membuat warga nyaris ditabrak oleh pengendara. Tikungan tajam di jalur tersebut membuat para peminta sumbangan terkadang tidak terlihat jelas oleh pengendara.
Beberapa pengendara yang dimintai tanggapannya mengaku sangat tergaggu dengan aktifitas tersebut. Bukan karena tidak mau memberikan sumbangan, namun karena dinilai sangat membahayakan.
“Niatnya baik untuk sarana ibadah, tapi kalau ada yang ketabrak bagaimana, pasti kami sebagai pengguna jalan yang akan disalahkan. Jalan raya untuk pengendara, bukan jadi tempat meminta sumbangan,” keluh Lalu Dante, salah seorang pengendara yang melintas di jalur Barabali.
Aksi meminta minta sumbangan seperti ini ternyata hanya terjadi di desa desa. Tapi di dalam kota, pemandangan semacam ini seakan tidak akan pernah kita jumpai. Apalagi di sekitar Masjid Agung Praya, aksi minta minta untuk pembangunan masjid tidak akan pernah ada.
Bagaimana tidak, sebagian besar anggaran pembangunanya, ditanggung pemerintah. Sebagai salah satu icon Lombok Tengah dan icon Kota Praya, Masjid Agung diberikan keistimewaan tersendiri oleh Pemkab Lombok Tengah.
Di saat panitia masjid-masjid atau sarana ibadah di pelosok desa harus putar otak mencari anggaran, panitia pembangunan Masjid Agung sedikit bisa bernafas lega. Hal itu dikarenakan adanya campurtangan pemerintah daerah di dalamnya.
Apalagi panitia dan penanggungjawab kegiatan di Masjid Agung Praya, rata rata orang berduit dan masih memegang jabatan penting sehingga untuk merumuskan kegiatan apalagi yang bersifat pembangunan fisik akan lebih mudah.
Namun yang menjadi pertanyaan banyak pihak, dengan struktur kepengurusan yang begitu kokoh dan dan intervensi anggaran luar biasa, bangunan Masjid Agung oleh sebagian kalangan dianggap jalan di tempat. Kalapun ada perubahan, tidak terlalu signifikan. Dan hal ini dianggap tidak sesuai dengan dana yang dikelola selama ini.
Dalam keterangan Persnya di tahun 2015 lalu, mantan Kepala Dinas PUPR Lombok Tengah, Drs HL Rasyidi menyebutkan bahwa di tahun itu Pemkab Lombok Tengah telah mengucurkan dana sekitar Rp 40 miliar. Anggaran yang begitu besar tersebut akan digunakan untuk mepercepat penyelesaian pembangunan masjid yang sudah 32 tahun dikerjakan tersebut.
Bahkan, sampai Agustus mendatang sekitar Rp2 miliar dana sudah dihabiskan dalam progress pembangunan Masjid Agung tersebut. Tidak berhenti sampai disitu, para Aparatur Sipil Negara (ASN) juga diimbau untuk ikut berpatrisipasi. Begitu juga sumbagan dari para donatur, terus diupayakan. Beberapa donatur bahkan dinilai telah ikut berpartisipasi, bahkan ada yang sumbangannya cukup fantastis.
Di tahun 2016, salah seorang hamba Allah yang tidak ingin diketahui identitasnya diduga menyumbang dana pembangunan Masjid Agung Praya sebesar Rp.7.1 miliar.
Bupati Lombok Tengah HM. Suhaili saat itu menjelaskan bahwa sumbangan dana itu berasal dari sesorang yang tidak ingin namanya diketahui publik. Dengan dana tersebut, Suhaili yakin pembangunan Masjid Agung Praya bisa tuntas.
Sementara itu Kepala Rumah Tangga Masjid Agung Praya H.Ridwan Makruf saat itu menjelaskan, donatur bersama dengan pekerjanya sudah datang melihat langsung pembangunan Masjid Agung. Kedatangan donatur bersama 60 pekerjanya tersebut disambut langsung oleh pihak panitia pembangunan masjid agung di bandara.
Setibanya di Lombok kata Ridwan, para pekerja tersebut langsung bascamp untuk memproduksi bahan bahan yang dibutuhkan. “Mereka sudah langsung bekerja” terangnya. Dijelaskan Ridwan, anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun Kubah induk baru dan 4 menara.
Tidak berhenti sampai disitu, di tahun 2020, kubah Masjid Agung kembali mendapat hibah Rp5 miliar lebih dari Pemkab Lombok Tengah. Tekhnis eksekusi anggaran dan pelaksanaannya diduga dijalankan Dinas PUPR yang saat itu dipimpin Lalu Firman Wijaya yang saat ini menjabat Sekda Lombok Tengah.
Sekda berdalih hibah tersebut digunakan untuk membangun struktur penopang kubah dan beberapa item pekerjaan fisik lainnya.
Namun lagi lagi masyarakat curiga dana tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya. Anggaran Rp5 miliar dinilai terlalu besar kalau hanya sekedar untuk membuat rangka penopang kubah.
Banyak yang menduga dana hibah tersebut masuk katong atau digunakan untuk kepentingan pribadi oknum oknum pejabat saat itu.
Kecurigaan masyarakat semakin kuat lantaran dana tersebut tidak banyak diketahui dan terkesan dirahasiakan oleh pemerintah daerah.
Lebih ironis lagi, dengan anggaran yang begitu besar, bangunan masjid yang sejak 30-an tahun dikerjakan, tak kunjung beres. Bahan banyak pihak menilai bangunan masjid agung kalah megah kalah dengan beberapa masjid di Lombok Tengah yang dananya hanya bersumber dari sumbangan warga.
Kendati tidak seluas Masjid Agung Praya, namun yang perlu dicatat bahwa warga bisa menyelesaikan pembangunan dengan dana seadanya dalam waktu singkat.
“Untuk mendapatkan dana kami pengurus masjid di desa harus minta minta di jalan, bahkan terkesan “ngemis” semen ke beberapa politisi. Tapi alhamdulullah bangunan masjid kita di desa bisa rampung dengan bagunan megah. Sementara masjid Agung Praya, tidak tahu kapan akan selesai padahal dananya dari daerah,” kata tokoh muda Lombok Tengah, M.Irpan.
Atas dasar itu pihaknya mengaku telah melaporkan panitia pembangunan masjid agung ke Kejakdaan Agung (Kejagung) Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Pihaknya meyakini di dalam bangunan Masjid Agung Praya tersimpan skandal besar yang apabila dibuka akan membuat geger masyarakat Lombok Tengah.
Dorongan terhadap Aparat Penegak Hukum (APH) untuk nimbrung dalam persoalan ini juga terus disuarakan banyak pihak. Mulai dari anggota dewan, pegiat LSM hingga kalangan ASN juga sangat ingin persoalan tersebut dibuka ke publik.
Pihak panitia terus didesak buka suara. Namun sayangnya para pihak yang terlibat dalam pembangunan Masjid Agung Praya itu masih memilih irit bicara.





