Anugerah SisBerdaya 2025: Saatnya UMKM Majukan Bisnis Lewat Teknologi

oleh -884 views
oleh
CEO dan Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara

LOMBOKSATU.com — CEO Dana Indonesia, Vince Iswara membuka gelaran Anugerah SisBerdaya & DisBerdaya 2025 dengan penuh semangat dan sapaan hangat, Kamis (07/08/2025 di Jakarta. Tak ketinggalan, ia membawakan pantun pembuka khasnya: “Pergi ke pasar membeli nangka, bayarnya jangan lupa pakai DANA.” Suasana langsung cair, menyambut para finalis dan tamu undangan yang hadir.

Acara tahunan ini menjadi ruang apresiasi sekaligus pengembangan bagi perempuan pelaku UMKM dan penyandang disabilitas. Tahun ini, program menjangkau 154 pelaku usaha perempuan penyandang disabilitas dan berhasil mencatatkan lonjakan pendaftar hingga 5.000 UMKM, naik empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Vince menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung program ini, mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan RI, mitra internasional, lembaga disabilitas, universitas, hingga perusahaan-perusahaan yang turut bergandeng tangan dalam mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia.

Menurut Vince, peran perempuan dalam UMKM sangat besar. “Sekitar 60% UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan. Mereka tidak hanya bekerja keras di bidang usaha, tapi juga menjalankan peran ganda dalam keluarga,” ujarnya.

Sayangnya, akses pembiayaan bagi mereka masih terbatas. Hanya 27% UMKM perempuan yang mendapatkan akses ke lembaga keuangan formal. Kondisi serupa juga terjadi pada kelompok disabilitas dari sekitar 20 juta penyandang disabilitas di Indonesia, hanya 22% yang memiliki akses keuangan.

Padahal, tambahnya, kemajuan teknologi seharusnya bisa menjadi jembatan untuk mengatasi kesenjangan ini. Vince menyebut data yang menunjukkan bahwa 24% UMKM yang go digital mampu menambah tenaga kerja, dan 88% lainnya mengalami peningkatan omzet. Ini jadi bukti nyata bahwa teknologi punya potensi besar dalam mendongkrak ekonomi pelaku UMKM.

Mengusung tema “Memajukan Bisnis dengan Teknologi”, tahun ini para peserta dibekali materi terkait pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) untuk operasional bisnis. Mulai dari riset pasar, analisis perilaku pelanggan, pengukuran performa keuangan, hingga eksplorasi ide bisnis baru—semua dibungkus dalam kurikulum praktis yang bisa langsung diterapkan.

Cerita menarik datang dari Sis Lisa, peserta asal Sumatera Barat. Awalnya ia mengaku gagap teknologi (Gaptek) dan mengira AI cuma buat bikin gambar. Tapi setelah sesi mentoring, Lisa kini lebih paham dan bahkan siap menggunakan AI untuk mengembangkan bisnis rendang miliknya. “Hebat ya Sista. Jangan disia-siakan loh teknologi AI-nya,” ucap Vince dengan bangga.

Ia menegaskan, jenis usaha para finalis saat ini semakin beragam dan kreatif. Ada yang membuat nasi instan rasa Timur Tengah, ada yang mengembangkan konsep agrowisata, hingga yang fokus pada produk lokal dengan kemasan kekinian. Semua menunjukkan, perempuan dan penyandang disabilitas punya potensi luar biasa yang layak didukung.

Vince juga menyampaikan apresiasi kepada para mentor dan juri yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan ilmunya untuk mendampingi para peserta. “Mereka bukan hanya memberikan ilmu teknis, tapi juga pertanyaan-pertanyaan baru yang membuat peserta siap melangkah lebih jauh,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Vince menekankan bahwa SisBerdaya dan DisBerdaya bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang tumbuh yang nyata. “Kolaborasi dari semua pihak—pemerintah, swasta, komunitas, dan pelaku usaha—telah menciptakan dampak yang luar biasa. Ini adalah gerakan bersama menuju masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya,” ucapnya.