Dinkes Lombok Timur Genjot Penanganan Tiga Penyakit Secara Gratis

oleh -1.079 views
oleh
dinkes
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Lombok Timur, Lalu Arias Fahrozi

LOMBOKSATU.com — Dinas Kesehatan (Dinkes) Lombok Timur terus menggenjot pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya penanganan tiga penyakit yakni Human Immunodeficiency Viruss (HIV), tubberkulosis (TB), dan hipertensi.

HIV atau virus pelemahan kekebalan manusia merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, membuatnya lebih sulit untuk melawan infeksi dan penyakit.

Sedangkan TB merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis, biasanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyerang bagian tubuh lain.

Hipertensi adalah kondisi tekanan darah tinggi yang jika tidak terkontrol dapat menyebabkan masalah kesehatan serius seperti penyakit jantung dan stroke.

Saat ini, pihak Dinkes terus melakukan langkah strategis yang ditempuh menjalin kerja sama dengan klinik-klinik swasta yang tersebar di berbagai wilayah, terutama yang jauh dari jangkauan puskesmas.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Lombok Timur, Lalu Arias Fahrozi menjelaskan kolaborasi ini sudah berjalan cukup efektif. “Saat ini, sudah lebih dari 20 klinik yang bergabung,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (13/06/2025).

Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring meningkatnya kesadaran dan partisipasi klinik swasta dalam mendukung program kesehatan publik yang menjadi program pemerintah.

Tujuan kerja sama ini mendekatkan akses pengobatan kepada masyarakat, khususnya di daerah pelosok. Sebelumnya, masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan pemerintah sering kali terkendala jarak dan biaya.

Melalui program ini, warga kini cukup datang ke klinik terdekat yang sudah bermitra dengan pemerintah daerah dan tetap mendapatkan layanan secara gratis.

“Jadi, warga yang tinggal di pelosok tidak perlu khawatir. Cukup datang ke klinik terdekat yang sudah bekerjasama,” kata Lalu Arias.

Program ini telah diluncurkan tahun 2024 sebagai bagian dari upaya percepatan layanan kesehatan primer. Dari total 47 klinik swasta di Lombok Timur, sebanyak 24 di antaranya telah menjadi mitra dalam penanganan tiga penyakit tersebut.

Dinkes juga terus mendorong partisipasi klinik lainnya agar cakupan layanan semakin luas dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Dukungan pemerintah daerah juga tidak sebatas regulasi dan koordinasi.

Namun mencakup pembiayaan langsung yang disalurkan ke klinik-klinik mitra. Fokus utama, memastikan masyarakat tidak terbebani secara ekonomi ketika mengakses layanan kesehatan, khususnya untuk penyakit kronis seperti hipertensi.

“Pembiayaan untuk penyakit seperti hipertensi sudah disiapkan, jadi warga tidak perlu keluar uang,” tambahnya. Lalu Arias menekankan pentingnya keberadaan nota kesepahaman (MoU) antara klinik swasta dan puskesmas di wilayah masing-masing.

Hal ini dilakukan agar pelaporan kebutuhan obat tetap terpusat dan terkoordinasi melalui puskesmas, sehingga distribusi logistik obat lebih tertib dan tepat sasaran.

“Karena klinik berada di wilayah puskesmas yang sama, pelaporan kebutuhan obat tetap melalui puskesmas agar layanan lebih terkoordinasi dan mudah diakses,” ujarnya.

Dengan model kolaboratif ini, Dinkes Lombok Timur optimistis layanan kesehatan akan semakin cepat, merata, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas.

Sinergi antara sektor publik dan swasta menjadi langkah nyata untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam mendapatkan hak atas pelayanan kesehatan yang layak.