Beragam Cara Peserta UKW Atasi Ketegangan, Mulai dari Rajin Solat sampai Bawa Jimat

oleh -1.883 views
oleh
uji
Peserta UKW mengikuti siswa wawancara dengan Kepala Dinas Kominfo Mataram (lomboksatu/darwis)

Untuk menghadapi uji kompetensi wartawan (UKW), peserta seringkali dihadapkan situasi tegang dan penuh tantangan. Namun, tak sedikit dari peserta menemukan cara unik mengatasinya, seperti yang terjadi pada peserta UKW di Mataram pekan lalu. Berikut ulasan lengkapnya.

Oleh: Darwis – Lombok Tengah

Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sepertinya masih menjadi sesuatu yang menakutkan bagi sebagian peserta. Untuk mengatasi ketegangan yang terjadi, peserta melakukan berbagai cara, mulai dari rajin solat, main game online sampai membawa jimat keberuntungan.

Secara spiritual, ibadah solat sebagai dapat memberikan rasa tenang, sementara jimat keberuntungan sebagai simbol keyakinan diri dalam menghadapi tantangan. Ada juga yang mengatasinya lewat game online.

Rasa takut dan menegangkan dalam menghadapi ujian apapun selalu muncul, tak terkecuali pada ujian seorang wartawan yang harus diuji kemampuannya sehingga layak menyandang predikat wartawan profesional. Padahal yang diuji itu pekerjaan yang selalu dilakukan setiap hari.

Salah seorang peserta UKW inisial S terlihat berdiri di salah satu sudut parkiran Prime Park Hotel Mataram. Terlihat mulutnya komat kamit membaca sesuatu sembari mencium cincin batu akik berwarna merah yang dikeluarkan dari dalam tasnya. Kemudian dilanjutkan dengan menghentakkan kakinya sebanyak tiga kali.

Setelah melakukan ritual tersebut, ia dengan percaya diri naik ke lantai dua tempat berlangsungnya ujian. Di dalam lift ia bercerita, cincin batu akik merah yang ia bawa itu adalah jimat keberuntungan pemberian kakek buyutnya.

Ia meyakini jimat tersebut berkhasiat membawa keberuntungan bagi siapa saja yang menggunakannya. Bahkan efek jimat tersebut diklaim bisa berpengaruh pada orang-orang di dekatnya.

“Ini batu anti bodoh. Mudahan kita duduk berdekatan ya, biar bro juga bisa menjawab soal dengan baik,” kata S dengan penuh semangat dan percaya diri, Jumat (19/01/2024).

Tapi anehnya, saat memasuki ruang ujian, wajah S yang berkulit sawo matang berubah pucat. Keringat dingin pun terlihat jelas di keningnya. Tidak sampai di situ, saat di hadapan penguji terlihat gemetar dan semakin tidak fokus. Entah apa yang dipikirkan.

Saat sesi istirahat, ia pun menceritakan pengalamannya saat di hadapan penguji. Jimat berupa batu akik yang menurutnya bertuah tidak mempan di hadapan penguji. “Kacau bro, otak saya kok tiba-tiba kosong, hafalan saya hilang. khodam jimat ini sepertinya juga takut sama penguji,” tutur S kepada rekan-rekannya.

Lain lagi wartawan inisial Y yang mengaku mendadak rajin shalat. Sebelum berangkat ujian, Y bahkan mengaku sempat sungkeman meminta doa kepada kedua orangtuanya. “Sebelum berangkat saya izin ke ibu dan keluarga di rumah,” tuturnya.

Sementara wartawan lain inisial D mengaku memilih bermain game princes untuk mengurangi ketegangan menjelang ujian. Di hotel tempat menginap maupun saat jam istirahat ujian, ia manfaatkan untuk bermain game princes, salah satu game paling digemari saat ini.

Namun ia mengaku semua itu tidak begitu berpengaruh. Rasa gugup masih dirasakan saat berhadapan dengan penguji. “Meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan rasa tegang, tapi paling tidak permainan game ini sedikit membantu,” tuturnya.

Selain unik, apa yang dialami wartawan-wartawan tersebut sebenanya menggambarkan betapa ketatnya pelaksanaan UKW kali ini. Hampir sebagian besar peserta yang dimintai tanggapannya, menilai UKW kali ini sangat berat.

Menurut mereka, semua pengetahuan dan pengalaman selama ini, seakan hilang di hadapan penguji. Hal tersebut juga membantah anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa UKW hanya acara seremonial semata. “Boleh kita merasa hebat di luar, tapi setelah diuji semuanya bisa berubah,” kata beberapa peserta UKW.

Sementara itu salah seorang penguji, H. Abdussyukur mengatakan UKW pada dasarnya adalah ujian dari rutinitas sehari hari. Jika memang yang bersangkutan benar-benar menjalankan tugas jurnalis dengan baik, tidak ada yang terlalu sulit. Hanya saja, situasi di ruang ujian pasti berbeda.

Menurutnya, UKW merupakan salah sarana mewujudkan wartawan profesional. Melalui UKW bisa mengetahui sejauhmana wartawan yang bersangkutan memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas jurnalis.

Untuk menentukan kompeten atau tidak, para penguji tetap profesional tanpa ada intervensi dari pihak manapun dalam menentukan kelulusan. Hal ini untuk menjawab beberapa isu miring seputar UKW.

Menurut Syukur, belakangan banyak pihak yang mengatakan UKW tidak penting dan hanya acara seremonial semata. Anggapan tersebut menurutnya sangat keliru. Sebab, layaknya profesi lain, jurnslis juga tentu punya standar.

Belum lagi belakangan ini banyak kasus yang mencoreng nama baik profesi jurnalis yang diduga dilakukan oknum-oknum tidak bertanggungjawab. Untuk menghindari hal-hal semacam itu, setiap wartawan harus diuji dalam segala hal, salah satunya melalui UKW.

“Kalau mengaku wartawan tentu harus berani diuji. Disana akan dibuktikan apakah kita layak atau tidak disebut sebagai wartawan,” kata H. Syukur usai pelaksanaan UKW, Jumat (19/01/2024).

Untuk itu pihaknya mengimbau seluruh wartawan agar ikut UKW. Di samping sebagai ajang pembuktian diri sebagai waratawan, banyak ilmu baru yang akan diperoleh dari para penguji yang sudah berpengalaman.

Diketahui, UKW angkatan XV tahun 2024 ini diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kerjasama BUMN diselenggarakan di Prime Park Hotel Mataram, mulai 18 sampai dengan 19 Januari 2024.

Sesuai daftar, UKW diikuti 48 peserta dari semua jenjang yakni muda, madya, dan utama. Setelah diverifikasi, dua peserta berhalangan hadir dan tiga orang dinyatakan tidak kompeten.