Oknum Dewan Lombok Tengah Diduga Jual Beli Program Aspirasi

oleh -683 views
Gedung pertemuan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)
Gedung pertemuan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)

LOMBOKSATU.com – Dugaan jual beli proyek aspirasi oknum anggota dewan, masih banyak dijumpai. Kali ini, oknum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DPRD Kabupaten Lombok Tengah Dapil II (Kopang-Janapria) inisial AR diduga memperjualbelikan progam aspirasinya.

Dalam konferensi persnya di Praya, Senin (22/11/2021), sejumlah tokoh masyarakat Desa Lekor Kecamatan Janapria mengaku akan melaporkan praktek jual beli proyek yang diduga dilakukan oknum dewan tersebut ke Mapolres dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Lombok Tengah.

“Data kami sudah lengkap, kalau tidak ada halangan dua atau tiga hari kedepan persoalan ini sudah di Mapolres dan Kejari Lombok Tengah,” kata salah seorang tokoh Lekor M Junaidi.

Menurut Junaidi, dugaan jual beli program pemerintah itu telah dilakukan sejak periode pertamanya sebagai anggota dewan.

Untuk bantuan sapi misalnya, diduga sudah berlangsung sejak lama. Penerima bantuan diduga dipungut biaya Rp 3 sampai Rp 6 juta per ekor. Dari keterangan yang ia peroleh, beberapa penerima bantuan, uang diserahkan langsung kepada AR sendiri.

Sampai saat ini, setidaknya hampir seratus sapi diduga sudah ditebus kepada yang bersangkutan. Bahkan kata dia, terkadang uang diterima sebelum bantuan sapi keluar.

“Bayangkan saja, 80-an sapi sudah disalurkan. Masing-masing penerima harus bayar,” beber Junaidi.

Selain itu, dugaan penyimpangan proyek juga terjadi pada proyek pembangunan gedung pertemuan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

Hajatan awal gedung yang dibangun dengan dana ratusan juta tersebut untuk fasilitas publik. Namun diduga saat ini, bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi kios pribadi.

Selain tidak sesuai fungsinya, lahan bangunan tersebut diduga lahan pribadi. Seharusnya kata dia, gedung dibangun di lahan pemerintah.

Tidak itu saja, diduga pembangunan lapangan futsal yang mulai dikerjakan 2018, sampai saat ini tak kunjung jadi. Seperti halnya balai pertemuan P3A, status lahan futsal seluas 8 are itu diduga masih milik pribadi warga setempat.

Menurut Junaidi, selain hal itu, masih banyak lagi proyek aspirasi lain yang akan dibongkar dalam waktu dekat.

Lebih lanjut Junaidi menjelaskan, apa yang dilakukan ini bukan untuk menjatuhkan yang bersangkutan, melainkan semata-mata untuk membela kepentingan masyarakat Lekor yang selama ini sudah merasa sangat dirugikan.

Sementara itu AR yang dikonfirmasi membantah semua tudingan tersebut. Menurutnya, persoalan bantuan sapi, gedung P3A, futsal dan lainnya adalah masalah lama yang sebenarnya sudah selesai.

Untuk bantuan sapi kata AR, sama sekali tidak ada pungutan. Untuk gedung P3A, sudah jadi dan difungsikan sebagai tempat pertemuan seperti hajatan awal pembangunannya.

Begitu juga dengan futsal, sudah tidak ada masalah. Bahkan kata dia, dugaan penyelewengan sudah dilaporkan beberapa tahun lalu oleh beberapa LSM, tapi tidak terbukti.

“Sudah selesai, malah ada LSM dari Mataram yang melaporkan saya dan itu sudah selesai tahun 2019,” jelasnya.

Adapun masalah lahan gedung pertemuan P3A dan futsal, sudah ada surat hibah dari pemerintah desa.

Untuk itu pihaknya berharap kepada para pihak agar duduk bersama mengedepankan musyawarah mufakat sebelum melaporlan persoalan ini ke pihak kepolisian. (Dar)

No More Posts Available.

No more pages to load.