Workshop: Sekda Paparkan Fenomena Remaja

oleh -1.603 views
oleh
Sekda Lotim HM Juaini Taofik (tengah) usai membuka workshop
Sekda Lotim HM Juaini Taofik (tengah) usai membuka workshop

LOMBOKSATU.com – Sekda Lombok Timur HM Juaini Taofik membuka Workshop Validasi Hasil Temuan Baseline Study Power to You(th) yang diselenggarakan Ruang Temu Generasi Sehat Indonesia (Rutgers) kerja sama Unit Kajian Gender dan Seksualitas Fisipol UI, Kamis, (18/11) di Selong.

Dalam sambutannya, Sekda menyebutkan ada 4 faktor yang menjadi inti permasalahan remaja dan anak di Kabupaten Lombok Timur sekarang ini, pertama pandemi covid-19, usia kehamilan, sumberdaya, dan perilaku.

Namun yang paling krusial dari 4 faktor itu menurut Sekda, adalah perilaku. Karena perilaku menjadi penentu arah masa depan anak dan remaja Lombok Timur di masa mendatang.

Jika melihat fenomena remaja Lombok Timur saat ini, remaja lebih tertarik menikah dari pada melanjutkan sekolah, tentunya ini menjadi keresahan bersama sehingga dibutuhkan kesiapan menghadapi tantangan tersebut.

Mengantisipasi hal itu, Sekda menyebutkan beberapa upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menghadapi hal tersebut seperti membuat regulasi berupa Peraturan Bupati.

Selain itu, pemerintah mendorong terbentuknya peraturan desa (Perdes) untuk perlindungan anak dan mencegah pernikahan anak karena di pedesaan sangat rentan terjadinya pernikahan dini.

Ia juga menegaskan, Pemda Lombok Timur telah melakukan transformasi Posyandu kovensional menjadi Posyandu keluarga. Hal itu dilakukan agar pemantauan remaja juga dapat dilakukan secara rutin.

Tidak hanya posyandu, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur juga membentuk pelayanan konseling teman sebaya atau PIK R di setiap sekolah di Kabupaten Lombok Timur.

Mengakhiri sambutannya Sekda menganjurkan seluruh peserta fokus dan ikut mencermati hasil penelitian, untuk bersama menemukan solusinya.

Perlu diperhatikan, penelitian yang dilakukan Rutgers dan Unit Kajian Gender & Seksualitas Fisipol UI pada anak dan remaja di Kecamatan Sakra Timur dan Jerowaru sebagai 2 wilayah yang dianggap rentan permasalahan anak dan remaja.

Pembukaan workshop ini selain dihadiri Sekda, Ketua Rutgers wilayah NTB, dan perwakilan Unit Kajian Gender & Seksualitas Fisipol UI, juga dihadiri pimpinan OPD terkait seperti DP3AKB, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, LSM dan organisasi lainnya.