Dispertanak Loteng Bongkar Penyebab Kematian Mendadak Kerbau Milik Warga

oleh -80 views
Jajaran Dispertanak Loteng saat menggelar konferensi pers terkait kematian mendadak puluhanan kerbau di wilayah Selatan
Jajaran Dispertanak Loteng saat menggelar konferensi pers terkait kematian mendadak puluhanan kerbau di wilayah Selatan

LOMBOKSATU.com – Penyebab kematian mendadak puluhan kerbau warga di Lombok Tengah mulai terbongkar. Hal ini mengacu pada hasil penelitian sample organ oleh Balai Besar Veteriner Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Lombok Tengah (Loteng).

Kepala Dispertanak Loteng Lalu Iskandar memastikan, kematin puluhan kerbau warga di beberapa dese di Lombok Tengah wilayah Selatan karena penyakit pneumonia yang mengarah pada penyakit septicaemia epizootica (SE).

Dalam kompetensi Pernya di Praya, Rabu (29/09/2021), ia menjelaskan, septicaemia epizootica (SE) merupakan salah satu penyakit menular pada ruminansia terutama sapi dan kerbau yang bersifat akut dan fatal.

Sebagai salah satu penyakit strategis di Indonesia, SE merupakan penyakit yang perlu mendapatkan prioritas dalam penanggulangannya. Namun demikian, penyalin ini bukan termasuk jonosis yang bisa menular ke manusia secara langsung, melainkan hanya bisa menular ke ternak sapi atau kerbau.

“Yang sangat rentan kerbau, sedangkan sapi sedikit bisa bertahan,” kata Iskandar sembari menyatakan, kesimpulan ini setelah melalui pengiriman sample organ sebanyak dua kali. Termasuk melakukan penelitian di kandang maupun lokasi kejadian.

Dalam kasus ini, penyebaran virus atau bakteri SE baru terdeteksi di Desa Kuta, Prabu, Tumpak dan Ketare. Tidak kalah pentingnya, ia menegaskan kasus ini tidak ada kaitannya dengan pembangunan sirkuit moto GP sebagaimana yang diisukan selama ini melainkan murni akibat penyakit alami.

Setelah adanya hasil penelitian, penanganan harus melalui pemberian vaksin. Target program vaksinasi selesai dalam dua minggu kedepan. Hanya saja akan melakukan vaksin di kantung-kantung penyebaran virus. Sementara wilayah lain akan menyusul secara bertahap.

“Jumlah kerbau di Lombok Tengah mencapai ribuan, tapi yang divaksin hanya di beberapa wilayah saja,” terangnya. Ia menegaskan, vaksinasi merupakan satu satunya solusi penanganan bakteri SE, walaupun memang tidak bisa menjamin seratus persen.

Penularan penyakit SE ini sebenarnya tidak akan separah sekarang jika segera ditangani. Saat melihat kelainan, peternak seharusnya melaporkan dan langsung mengkarantina kerbau mereka. “Resiko penularan tetap ada. Tergantung cuaca dan perawatan,” jelasnya.

Namun yang terjadi justeru sebaliknya, peternak justeru menggembalakan kerbau yang sakit secara bersamaan tanpa adanya pemisahan. Celakanya, maayarakat mengabaikan anjuran petugas untuk melakukan karantina.

Bahkan beberapa peternak tidak mengizinkan petugas untuk melakukan penanganan dengan berbagai alasan. Kendati demikian pihaknya berharap untuk kali ini para peternak bisa lebih terbuka dan mendukung upaya penanganan penyakit tersebut.

Adapun kerugian yang masyarakat alami sangat besar. Namun pemerintah belum bisa memberokan ganti rugi melalui kartu Maiq Meres, lantaran para peternak belum terdaftar sebagai pemegang asuransi. “Peternak yang sudah mendaftar asuransi baru sepuluh persen,” kata Iskandar.

Padahal kata Iskandar, jika menjadi peserta asuransi akan mendapat uang ganti rugi Rp 10 juta/ekor kerbau atau sapi. Adapun pembayaran iuran bulanan peserta asuransi hanya Rp40 ribu setiap bulan.

Untuk itu pihaknya berharap kejadian ini bisa jadi pelajaran agar kedepan para peternak mau mengikuti program asuransi. Sehingga apapun resiko yang ada selama bertani atau beternak bisa mendapat jaminan dari pemerintah. (Dar)

No More Posts Available.

No more pages to load.