Pemasuh Alam, Tradisi Lokal Masyarakat Sasak

oleh -435 views

LOMBOKSATU.com – Masyarakat Gumi Sasak memiliki budaya dan kearifan lokal yang masih dipegang hingga saat ini. Jika mengacu pada UUD 1945 Pasal 32 ayat 1 berbunyi “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

Dengan demikian, untuk mencapai pemajuan kebudayaan telah ditentukan pemerintah, maka masyarakat harus menjaga dan mampu mempertahankan semua budaya dan tradisi yang telah menjadi warisan generasi pendahulu, karena hal ini menjadi salah satu potensi dan kekayaan bangsa Indonesia yang dikenal memiliki aneka warisan budaya yang unik dan menarik.

Kembali ke budaya masyarakat Gumi Sasak, salah satu upacara ritual adat yang masih dilaksanakan saat ini adalah Pemasuh Alam Gumi Paer Gunung Rinjani yakni suatu ritual yang dilaksanakan masyarakat untuk menjaga alam, khususnya gunung Rinjani yang menurut tradisi dan keyakinan masyarakat, khususnya yang tinggal Dusun Medas Desa Obel-obel Sambelia Lombok Timur.

Ritual Pemasuh Alam ini merupakan prosesi masyarakat Sasak dalam menjaga keharmonisan antara manusia dan alam itu digelar di Bale Beleq Medas dengan dipimpin para kiyai, pemangku, dan toaq lokaq yang memahami fenonomena alam dan Gunung Rinjani, termasuk para tokoh dari luar Medas, seperti tokoh adat dari Desa Sembalun, Sajang, Biloq Petung, Bayan.

Rangkaian acara itu juga dilalui dengan pembacaan naskah lontar dan tembang dalam ritual pemasuh alam, di Bale Beleq Medas. Ratusan masyarakat turut serta dalam acara itu. Ritual ini juga dilakukan dengan penyembelihan kerbau. Selanjutmnya, pada saat malam hari dilakukan pembacaan naskah lontar dan tembang-tembang alam.

Untuk tahun 2020 ini, masyarakat desa setempat menggelar ritual itu dengan menghadirkan orang nomor dua di Lombok Timur Nusa Tenggara Barat yakni Wakil Bupati, H Rumaksi pada pelaksaan puncaknya, Senin (09/11/2020). Menurut pandanganya, tradisi Pemasuh Alam Gumi Paer ini sangat penting dijaga kelestariannya.

Hal itu penting, mengingat tradisi ini bisa menjadi pembelajaran yang baik bagi generasi untuk memahami hubungan manusia, alam, dan sang Pencipta. Menurut Wabup, gunung Rinjani dalam pandangan masyarakat Sasak merupakan gunung yang memiliki kesakralan dan harus dijaga kelestariannya. Maka bagi Wabup, ritual ini harus tetap dijaga untuk dilestarikan.

Di sisi lain, Rumaksi yang juga Ketua Himpunan Tani Indonesia NTB itu berharap agar masyarakat dan tokoh adat untuk bersinergi dengan pemerintah. Ia menyebutkan, pemerintah Lombok Timur saat ini dengan visi mewujudkan Lombok Timur yang adil, sejahtera, dan aman tentu tidak mudah, apalagi pemerintah tidak didukung oleh seluruh komponen masyarakat.

Mantan DPRD Provinsi itu menyadari masyarakat dan tokoh adat menjadi salah satu komponen pembangunan yang memiliki pemahaman mendalam atas lingkungan fisik dan sosial saat ini, karena itu masyarakat adat menjadi bagian penting dan mitra pemerintah dalam upaya memajukan daerah dengan tetap berpegang pada kearifan lokal.

Kaitan dengan itu pula Wabup Rumaksi mengajak seluruh masyarakat dan tokoh adat senantiasa berperan aktif, salah satunya dengan memberikan saran atau kritik yang bersifat konstruktif terhadap program pembangunan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah.

Wabup juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat adat Medas Desa Obel-obel, Desa Sembahulun, Desa Sajang, Desa Biloq Petung, dan Desa Bayan yang masih memelihara kearifan lokal yang menjadi khasanah daerah. Diakuinya penyelenggaraan ritual adat menjadi semakin berat ketika dibenturkan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini. Akan tetapi patut disyukuri kegiatan ini dapat berjalan lancar meski masih negeri ini dilanda pandemi covid-19.

Acara ritual adat ini dihadiri pula Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) NTB, Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Raja-raja Nusantara, dan Pemangku, Pengerakse, serta tokoh adat lainnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.