Studium General di Malaysia, Umi Rohmi Paparkan Relevansi Nilai Kepemimpinan Kiai Hamzanwadi di Era AI

oleh -127 views
oleh
rohmi
Rektor Universitas Hamzanwadi, Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat menjadi pembicara di Universiti Putra Malaysia (UPM), Senin 13 Juli 2026

Malaysia – Nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan pahlawan nasional, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau dikenal dengan Kiai Hamzanwadi itu dinilai tetap relevan bahkan semakin dibutuhkan untuk menghadapi era transformasi digital dan artificial intelligence (AI).

Kepemimpinan pada masa depan tidak cukup bertumpu pada kecanggihan teknologi, tetapi harus dibangun di atas tujuan, ketahanan, integritas, dan kemampuan menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan bagi kehidupan masyarakat secara luas.

Gagasan tersebut disampaikan Rektor Universitas Hamzanwadi, Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat menjadi pembicara di Universiti Putra Malaysia (UPM), Senin 13 Juli 2026 melalui makalah bertajuk “From Local Wisdom to Global Leadership: The Hamzanwadi Leadership Values in an Age of Transformation and AI – Leading with Purpose, Resilience, and Impact.”

Rohmi mengawali pemaparannya membahasan konsep “Paradoks Lombok”, yaitu kondisi ketika daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam, budaya Sasak yang kuat, dan posisi geografis strategis masih menghadapi tantangan kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, serta rendahnya mobilitas sosial.

Menurut Wakil Gubernur NTB periode 2018-2023 itu, persoalan tersebut tidak semata berkaitan dengan kondisi geografis, tetapi lebih pada kemampuan membangun agensi, aspirasi, dan kepemimpinan masyarakat.

“Transformasi tidak dimulai dari infrastruktur atau teknologi, melainkan dari manusia. Sebelum mentransformasi institusi, kita harus mentransformasi aspirasi dan keyakinan masyarakat terhadap apa yang mungkin mereka capai,” ujar rektor yang kerap disapa Umi Rohmi itu.

Ia menegaskan, pendidikan merupakan instrumen paling strategis untuk memperkuat mobilitas sosial sekaligus membangun kapasitas kolektif masyarakat, sehingga mampu menciptakan perubahan yang berkelanjutan lintas generasi dan zaman.

Dalam kesempatan tersebut, Rohmi juga mengulas perjalanan kepemimpinan Kiai Hamzanwadi sebagai tokoh pembaru pendidikan di Lombok. Ia menjelaskan pendirian Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) pada 1937 menjadi tonggak penting lahirnya pendidikan Islam modern di Lombok yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan tuntutan zaman.

Menurutnya, Kiai Hamzanwadi tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan, tetapi membangun kepercayaan diri masyarakat, menumbuhkan aspirasi, dan menghadirkan agensi kolektif yang mendorong perubahan sosial. Semangat tersebut kemudian berlanjut melalui berdirinya STKIP Hamzanwadi pada 1977 yang berkembang menjadi Universitas Hamzanwadi pada 2016.

Rohmi menjelaskan kepemimpinan Kiai Hamzanwadi bertumpu pada tiga prinsip utama, yakni semangat belajar sepanjang hayat melalui filosofi “Bangsaku pacu beguru”, dorongan untuk menjadi masyarakat yang maju dan kompetitif melalui “Kaumku Sasak bejulu”, serta komitmen agar tidak ada seorang pun yang tertinggal melalui prinsip “Bangsaku ndakde bemudi”.

“Belajar tanpa henti, maju secara kompetitif, dan memastikan seluruh masyarakat ikut bertumbuh merupakan fondasi kepemimpinan yang tetap relevan hingga saat ini,” katanya.

Lebih lanjut, Rohmi memaparkan lima nilai utama yang menjadi sistem kepemimpinan Hamzanwadi, yakni Yakin, Ikhlas, Sabar, Syukur, dan Istiqomah. Kelima nilai tersebut tidak dipahami sebagai tahapan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan dalam membangun kepemimpinan yang transformatif.

Menurutnya, strategi hanya menentukan arah perjalanan, sedangkan nilai menentukan bagaimana seorang pemimpin tetap bertahan ketika menghadapi tantangan yang terus mendera dalam setiap langkah menggapai tujuan.

Ia menjelaskan, transformasi sosial yang berkelanjutan lahir melalui rangkaian yang dimulai dari nilai, diwujudkan dalam perilaku kepemimpinan, membentuk budaya institusi, memperkuat kemampuan kolektif, hingga akhirnya menghasilkan perubahan sosial yang mampu bertahan melampaui satu generasi kepemimpinan.

Karena itu, Rohmi menegaskan Universitas Hamzanwadi mengembangkan model dampak yang berakar pada masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan menghasilkan solusi bagi masyarakat. Pendekatan tersebut berjalan seiring dengan penguatan kolaborasi internasional, transformasi digital, peningkatan kualitas riset, serta pengabdian kepada masyarakat.

Rohmi menilai, daya saing global harus selalu berjalan berdampingan dengan relevansi lokal agar mampu menghadirkan perubahan yang bermakna. Dalam konteks kepemimpinan modern, Rohmi mengaitkan nilai-nilai Hamzanwadi dengan berbagai teori kepemimpinan kontemporer.

Nilai Yakin dipandang sejalan dengan kepemimpinan visioner, Ikhlas mencerminkan kepemimpinan melayani (servant leadership), Sabar berkaitan dengan kepemimpinan tangguh dan kapasitas adaptif, Syukur merepresentasikan kepemimpinan positif yang menghargai setiap proses, sedangkan Istiqomah mencerminkan kepemimpinan berkelanjutan melalui konsistensi dan disiplin.

“Tradisi intelektual mungkin menggunakan istilah yang berbeda, tetapi prinsip-prinsip kepemimpinan yang mendasar sesungguhnya saling bertemu,” jelasnya Pimpus Muslimat NWDI itu.

Ia juga menyoroti tantangan kepemimpinan pada era kecerdasan buatan. Menurutnya, semakin tinggi tingkat otomatisasi dan melimpahnya data, semakin besar pula kebutuhan terhadap kualitas manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

“AI dapat membantu manusia mengambil keputusan, tetapi tidak dapat menggantikan integritas, empati, kebijaksanaan, serta kepemimpinan yang berlandaskan nilai. Masa depan membutuhkan pemimpin yang mampu menggabungkan teknologi dengan karakter, kompetensi dengan kepedulian, serta inovasi dengan kemanusiaan,” pungkasnya.

Diharapkan, melalui studium general tersebut dapat menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai bagaimana nilai-nilai kepemimpinan yang lahir dari kearifan lokal dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kepemimpinan global di tengah percepatan transformasi digital dan perkembangan AI.