LOMBOKSATU.com – Keris Lombok memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Mulai dari bahan, pamor, dan sejarahnya, keris Lombok diyakini oleh para pecinta tosan aji (senjata pusaka tradisional) merupakan salah satu yang paling istimewa.
Sayangnya, upaya pelestarian keris di Pulau Lombok masih sangat minim. Sadar akan hal tersebut, puluhan pecinta tosan aji yang tergabung dalam Paguyuban Keris Anjani Lombok akan mengadakan bursa dan pameran tosan aji nasional.
Pameran dengan tema pesona keris di Lombok tersebut akan diselenggarakan Jumat (19/11/2021) di Hotel Segara Anak Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kuta Kecamatan Pujut yang rencananga akan dibuka Bupati Lombok Tengah HL. Pathul Bahri.
Ketua Panitia Lalu Yopi Diansastra mengapresiasi dukungan yang diberikan Pemkab Lombok Tengah pada kegiatan tersebut.
“Kami sangat bersyukur pak bupati merespon positif kegiatan ini,” kata Yopi kepada wartawan, Rabu (17/11/2021).
Yopi mengatakan, jumlah keris Lombok yang dipamerkan nantinya tidak terlalu banyak. Hanya dua puluhan keris.
Kendati demikian, keris-keris yang akan dipamerkan tersebut merupakan pusaka sepuh yang sudah disertifikasi, baik dari tangguh, pamor maupun histori keris itu sendiri.
“Dua puluh keris yang akan dipamerkan nantinya merupakan pusaka pilihan. Termasuk salah satu pusaka pak bupati Lombok Tengah, akan ikut dipamerkan,” jelasnya. Dalam kegiatan tersebut juga akan ada pameran perabot keris.
Kendati jumlah keris yang yang diikutsertakan tergolong sedikit, namun pameran tidak hanya dihadiri para pecinta keris di Lombok, para kolektor dari berbagai daerah juga sudah akan ikut menghadiri dan memeriahkan pameran tersebut.
Lebih lanjut Yopi menjelaskan, keikutsertaan bupati dalam pameran tersebut diyakini akan membawa dampak yang sangat besar terhadap dunia tosan aji di Pulau Lombok.
Terlebih bupati ternyata merupakan salah satu pecinta dan kolektor keris sehingga diyakini akan sangat memahami dan peduli dengan dunia tosan aji.
“Kalau pak bupati sendiri yang tampil di depan, pasti akan jadi magnet bagi yang lain. Terus terang kami tidak menyangka ternyata pak bupati diam-diam punya koleksi pusaka yang sangat banyak dengan kualitas luar biasa,” pujinya.
Selama ini, lanjut Yopi, dunia tosan aji selalu dipandang sebelah mata. Sebagian masyarakat khususnya generasi muda, sangat jarang yang menekuni dunia perkerisan.
Hal itu karena adanya pemahaman yang keliru tentang keris itu sendiri. Selama ini lanjut Yopi, keris selalu diidentikkan dengan kelenik dan hal-hal mistis.
Hal itu menurutnya memang sangat wajar, sebab dunia keris dan mistik memang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat.
Namun sebenarnya lebih dari itu, keris merupakan salah satu warisan budaya yang harus dilestarikan. Dalam sebilah keris kata Yopi, mengandung nilai seni dan filosofi tinggi.
Melalui sebilah pusaka, menurutnya orang bisa melihat betapa kayanya pengetahuan orang-orang terdahulu dalam seni khususnya tempa logam.
Selain itu keris juga merupakan simbol atau identitas masyarakat Indonesia khususnya di Pulau Lombok.
“Keris sudah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikannya,” jelasnya.
Selain itu, bangkitnya dunia tosan aji juga akan berdampak besar terhadap pariwisata dan ekonomi masyarakat. Di tambah lagi dengan keberadaan KEK Mandalika.
Jika semakin banyak orang memiliki keris, maka usaha kerajinan perak, warangka, dan lainnya akan menggeliat dengan sendirinya. Ini juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Terlebih saat ini kata Yopi, keris Lombok menjadi primadona. Para kolektor, baik di dalam maupun luar negeri saat ini tengah berlomba lomba memburu keris Lombok untuk dijadikan sebagai koleksi mereka.
“Keris Lombok sedang naik daun. Setelah dipelajari, keris Lombok memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari seni tempa maupun sejarahnya,” kata Yopi.
Selain itu, keris pusaka di Lombok masih sangat banyak. Sayangnya sebagian masyarakat cenderung menyembunyikan pusaka mereka dan lebih memilih mendiamkannya tanpa perawatan.
Ini menurutnya sangat keliru. Keris pusaka seharusnya dirawat dengan baik. Misalnya dibersihkan, diwarangi dan lainnya.
Dengan demikian, besi yang usianya rata-rata sepuh tidak termakan karat seperti yang terjadi pada sebagian besar keris pusaka warga saat ini.
Di Jawa dan Bali orang merawat keris itu bisa bahkan ada keharusan. Sayangnya untuk masyarakat kita di Lombok hal ini masih tabu.
“Ke depan kami akan terus berupaya mengedukasi masyarakat agar memahami pentingnya merawat pusaka,” terangnya.
Untuk itu melalui pameran ini pihaknya berharap kedepan masyarakat bisa lebih mencintai dunia tosan aji. Sehingga pusaka yang diwariskan oleh para leluhur kita bisa diwariskan ke generasi yang akan datang.
” Kita diwariskan keris untuk dirawat dan menjadi identitas kita. Kami berharap kegiatan seperti akan bisa dilakukan secara berkelanjutan bahkan bila perlu menjadi salah satu event pariwisata kita,” pungkasnya. (Dar)





