Sukses Dirikan Bank Sampah, Warga Torok Harapkan Kunjungan Gubernur

oleh -919 views
Pengelola bank sampah, Nurul Fatoni (baju putih) saat menunjukkan hasil daur ulang

SUKSES mengolah sampah menjadi berbagai produk secara mandiri, warga Desa Montong Ajan berharap ada perhatian pemerintah baik kabupaten maupun provinsi yang saat ini gencar dengan program zero waste. Bahkan warga berharap untuk bisa dikunjungi agar pemerintah melihat langsung aktivitas warga dalam mengelola sampah

OLEH: DARWIS-Lombok Tengah

Bagi kebanyakan orang sampah merupakan masalah, tapi tidak halnya bagi warga Dusun Torok Aik Belek, Desa Montong Ajan, Kecamatan Praya Barat Daya Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bank Sampah Torok Raya, itulah nama usaha daur ulang yang digagas warga Torok Aik Belek. Setiap hari puluhan warga menyisir botol-botol plastik di pesisir pantai dan pemukiman. Hasilnya kemudian dibawa ke gudang penampungan yang telah disiapkan pengelola bank sampah.

Sampah plastik kemudian dipilah berdasarkan jenisnya sebelum dibersihkan dan diolah. Berbekal keterampilan, sampah plastik yang sebelumnya menjadi masalah, disulap menjadi aneka kerajinan menarik dan bernilai ekonomi.

Kepala Dusun Torok Aik Belek Nurul Fatoni menuturkan, usaha daur ulang sampah tersebut sudah berjalan setahun lebih. Usaha ini berawal dari keluhan wisatawan seputar sampah di pantai. Beberapa pemuda kemudian mengusulkan pembentukan Bank Sampah Torok Raya.

Awalnya, proses daur ulang dilakukan dengan cara pembakaran. Namun dengan pertimbangan polisi udara, sampah akhirnya dirubah menjadi aneka kerajinan seperti tas, tali, dan souvenir lainnya yang sudah banyak dibeli oleh para wisatawan.

Di luar dugaan kata Fatoni, usaha yang ditekuni warga dilirik oleh PT. Inves Indonesia Island, salah satu investor di kawasan Torok Aik Belek yang memberi bantuan peralatan. Saat ini Bank Sampah Torok Raya sudah bisa membeli mesin pencacah.

Sekarang, botol-botol plastik dan lainnya sudah bisa diolah menjadi serbuk sampah. “Banyak yang mau beli, tapi nanti dulu lah,” kata Fatoni di rumahnya, Sabtu (13/03/2021).

Bahkan dalam waktu dekat Bank Sampah Torok Raya sudah bisa memproduksi piring, pot, gelas, bidak catur dan berbagai barang berbahan plastik lainnya. “Mesinnya sudah dipesan, dalam beberapa minggu kedepan sudah bisa produksi,” kata

Adapun sampah tidak hanya dari wilayah Torok Aik Belek saja, tapi juga dari desa-desa tetangga. Yang mana sampah yang dijual warga dihargakan Rp 2.000 per kilogram. Namun hasil penjualan akan ditabung dan diberikan kepada warga dalam bentuk sembako sesuai jumlah tabungan mereka.

Adapun karyawan tetap berjumlah sepuluh orang dan bekerja dari pagi sampai sore. Sedangkan upah kerja sekitar Rp 250 ribu/minggu, juga diberikan dalam bentuk sembako. “Dampaknya sangat besar. Paling tidak bisa mencukupi kebutuhan harian,” terangnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, usaha daur ulang sampah ini sudah dikunjungi Dinas Lingkungan Hidup (LH) kabupaten maupun provinsi. Sayangnya sejauh ini belum ada bantuan apapun yang diberikan.

Kedepan pihaknya berharap kepada pemerintah agar memperhatikan keberadaan usaha daur ulang sampah di wilayahnya. Karena bagaimanapun juga usaha ini sangat berdampak terhadap program Zero Waste atau bebas sampah yang digagas Pemprov NTB.

“Kita diminta mensukseskan program, tapi giliran diminta bantuan sulitnya minta ampun. Terus terang kami sangat berharap pak gubernur bisa berkunjung ke Torok Aik Belek,” kata Fatoni.

Kadus muda tersebut juga mengajak warga desa lain khususnya di wilayah selatan mampu mengambil sisi positif dari keberadaan sampah yang masih saja menjadi persoalan di NTB.

“Kebersihan lingkungan adalah tanggungjawab kita bersama. Jadi kami akan terus berikhtiar mensukseskan program pemerintah dan membantu masyarakat,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.