Dewan Sorot Kelangkaan Pupuk Bersubsidi

oleh -122 views

LOMBOKSATU.com – Kelangkaan menjadi penyebab harga pupuk melonjak. Persoalan ini seakan menjadi rutinitas tahunan setiap memasuki musim tanam. Persoalan “klasikal” ini mendapat sorotan serius Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Timur.

Melalui Komisi IV, DPRD Lombok Timur memanggil Kepala Dinas Pertanian Kabupaten setempat untuk dimintai penjelasan terkait persoalan yang menimpa petani setiap tahun ini.

Wakil Ketua DPRD Lotim, H Daeng Paelori memastikan keresahan masyarakat akan kelangkaan pupuk dalam beberapa hari terakhir ini disebabkan karena kelambanan birokrasi.

‘’Ternyata kelangkaan pupuk ini disebabkan oleh pengaruh kelambanan birokrasi,’’ kata Daeng Paelori, Rabu (06/01/2021).

Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Lotim itu menyatakan demikian berdasarkan pengakuan Kepala Dinas Pertanian Lotim, H Abadi pada kesempatan dengar pendapat bersama Komisi IV DPRD Lotim.

‘’Kadis Pertanian yang mengatakan seperti itu sehingga SK untuk pengecer mudah-mudahan hari ini segera terkirim dan diyakini minggu depan pupuk ini sudah tersedia,’’ ujarnya.

Alur birokrasi dengan kelangkaan pupuk yang terjadi, lanjut Daeng Paelori, berdasarkan rencana definitif jebutuhan kelompok (RDKK), dinas pertanian yang mempunyai kuasa mengeluarkan surat keputusan (SK) kepada para distributor atau pengecer yang dikirim ke Provinsi NTB.

‘’Berdasarkan RDKK itu, dinas yang bersangkutan mengeluarkan SK untuk dikirim ke Provinsi NTB. Jadi, ini yang saya katakan birokrasinya agak terlambat mengakibatkan pupuk itu langka di pasaran,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Lotim, H Abadi mengatakan, majunya musim tanam pada tahun ini menyebabkan terjadinya kelangkaan pupuk tersebut.

Adapun untuk pupuk non subsidi, lanjutnya, tidak pernah terjadi kelangkaan. Hanya saja masyarakat lebih memilih membeli pupuk bersubsidi karena harganya terjangkau.

‘’Untuk pupuk non subsidi memang selalu tersedia. Beberapa distributor sudah melakukan penebusan untuk pupuk non subsidi, tetapi di satu sisi petani kita memilih harga yang lebih rendah. Penanaman pada tahun ini juga serempak, jadi kebutuhan pupuk kan banyak jadinya,’’ katanya.

Selain itu, menurut Abadi, yang menjadi penyebab utama kelangkaan tersebut adalah jatah pupuk untuk tiga orang petani diambil oleh satu orang petani. ‘’Masalah utamanya juga jatah tiga orang petani diambil oleh satu orang,’’ ujarnya.

Dari sisi harga, ada beberapa jenis pupuk yang mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga berkisar antara Rp400-Rp500/kg. Urea dari harga Rp1.800/kg naik menjadi Rp2.250/kg, SP36 dari harga Rp2.000/kg menjadi Rp2.400/kg, ZA dari harga Rp1.400/kg menjadi Rp1.700/kg, dan pupuk organik Rp500/kg menjadi Rp800/kg.

Sementara itu, beberapa hari sebelumnya, Kabid PSP Dinas Pertanian Lotim, Lalu Pathul Kasturi menyatakan pihaknya menjamin tidak akan ada kelangkaan pupuk musim tanam ini.

“Kami jamin tidak ada istilah pupuk langka, kami sudah mengusulkan sesuai kebutuhan berdasarkan RDKK,” tandasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.