Dr. Khirjan Nahdi: Pernyataan Mendikbud Wajar dan Tidak Membingungkan

oleh -420 views
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Hamzanwadi, Dr. H. Khirjan Nahdi, M.Hum

LOMBOKSATU – Pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim di berbagai momen yang mengundang kontroversi bahkan kebingungan banyak kalangan, hingga akhirnya dipanggil DPR RI menjelaskan tentang wacana yang dibangun untuk kemajuan pendidikan. Namun demikian, tidak sedikit yang mengakui pemikiran seorang menteri muda ini merupakan suatu biasa dan wajar mengingat dewasa ini perilaku dan kehidupan masyarakat sudah mengalami perubahan besar sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah seorang akademisi yang juga Wakil Rektor Universitas Hamzanwadi, Lombok Timur NTB, Dr. H. Khirjan Nahdi, M.Hum menganggap pernyataan Nadiem Makarim itu tidak membingungkan karena pernyataan itu wajar dan tidak ada yang aneh dewasa ini. Meskipun sebagian banyak mengatakan membingungkan dan mau dibawa pendidikan ini.

Bagi Khirjan, pernyataan Nadiem tentang gelar tidak menjamin kompetensi itu wajar, sebab gelar adalah predikat formal untuk tingkat kecerdasan komprehensif (kesadaran, daya kritis, dan keterampilan merumuskan agenda dlm menyikapi dinamika individual dan sosial).

“Harapannya, gelar harus berdialektika antara apa yang dipikirkan sebagai orang cerdas dan apa yg ditawarkan dalam mengurai dinamika individu dan sosial, bukannya hadir dengan melahirkan masalah baru bagi diri dan masyarakatnya,” jelas Khirjan di Pancor, Lombok Timur NTB, Senin (16/12/2019).

Sementara pernyataan “kelulusan tidak menjamin kesiapan kerja” lanjut dia, hal itu juga sangat wajar. Justru ini tantangan buat lembaga pendidikan, agar menyiapkan lulusan yang tidak gagap dengap dinamika individu dan sosial. Memang, tidak semua lembaga pendidikan menyiapkan lulusan terampil kerja seperti pendidikan vokasi.

“Tapi harus dibedakan, antara siap memasuki dunia kerja dengan siap kerja. Siap memasuki dunia kerja maksudnya dengan ilmunya seorang lulusan paham bagaimana menyelesaikan masalah, kalau siap kerja adalah mereka yang terampil mengerjakan suatu jenis pekerjaan tertentu (tukang dan teknisi). Bukan menyamakan antara lulusan sebagai pemikir dan juru,” ulasnya.

Pernyataan menteri yang menyebut “akreditasi tidak menjamin mutu” menurut jebolan UNY itu, sangat benar dan wajar, dan sangat tidak ada masalah. Wajar saja, akreditasi adalah indikator yang memastikan bahwa sebuah lembaga pendidikan akan bermutu bila memenuhi indikator tersebut. Maksud kepastian itu adalah indikator mutu yang direncanakan, dilakukan/dipenuhi, dan dikembangkan.

“Jadi mengandung makna rencana (sebelumnya), dilaksanakan (saat ini dalam kurun waktu tertentu) dan (dikembangkan) waktu akan datang. Akreditasi itu akan jadi masalah kalau hanya sebatas dokumen ketika diverifikasi, lalu ditetapkan statusnya, lalu disimpan. ini yang dimaksud Pak Nadiem sbg tidak menjamin mutu, karena tidak diacu dalam pengembangan agenda lembaga pendidikan. akreditasi itu adalah fase setelah verifikasi, bukan fase sebelum varifikasi. Itu maksud Pak Nadiem,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.