Pergantian Nama Bandara, Tokoh Loteng Ini Minta Jangan Melawan Negara

oleh -218 views

LOMBOKSATU – Silang pendapat pergantian nama bandara internasional Lombok berbagai kalangan membuat tarik ulur pemasangan plang dan announcement di bandara. Berbagai reaksi pun bermunculan, mulai dari aksi demonstrasi, hingga perang dingin melalui media massa.

Salah seorang tokoh asal Lombok Tengah (Loteng), Drs. H. Syahdan Ilyas, MM yang juga Wakil Ketua Umum MUI NTB bersama pengurus MUI NTB sangat setuju nama Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

Menurut Syahdan, sejak dikeluarkannya SK Presiden pada bulan Nopember 2017 tentang Penganugrahan Pahlawan Nasional kepada TGKHM. Zainuddin Abdul Madjid mestinya seluruh masyarakat NTB bersyukur karena ada pahlawan nasional dari NTB.

“Itu artinya NTB sangat diperhitungkan oleh negara karena ada putra terbaik Lombok NTB terbukti punya jasa sangat besar untuk bangsa dan negara,” tegas DPD RI periode 2003-2008 itu dalam rilisnya, Jumat (23/11/2019).

H. Syahdan Ilyas

Ditambah lagi, lanjut dia, dengan dikeluarkannya SK Menteri Perhubungan tahun 2018 tentang pergantian nama bandara internasional Lombok menjadi bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

“Saya sebagai putra Lombok Tengah dan pernah menjadi DPD RI ikut berjuang bagaimana bandara ini supaya cepat selesai dan masyarakat NTB, khususnya Lombok Tengah bisa lebih maju dan sejahtera secara ekonomi,” imbuhnya.

Ia menyarankan semua pihak untuk menyikapinya dengan cara yang bijak, terutama Bupati Suhaili, Wakil Bupati Fathul Bahri, dan Sekda Lombok Tengah untuk perbanyak bersyukur dan fokus untuk memajukan daerah yang dipimpinnya.

“Jangan malah mengerahkan ASN (aparat sipil negara) dan memprovokasi masyarakat untuk melawan Pemerintah Pusat. Sekali lagi berhenti melawan dan membangkang atas keputusan yang sudah diambil sama pemerintah pusat,” tegasnya.

Ia juga sangat menyayangkan statemen oknum yang mengatasnamakan Majelis Ulama Indonesia NTB yang ikut-ikutan menolak pergantian nama bandara menjadi Bizam. “Mari kita terima dengan lapang dada dan terus bersyukur. Kita hargai kita cinta para ulama yang menjadi pahlawan nasional,” ulasnya.

Ia merasa heran, Negara sudah menganugrahkan NTB memiliki pahlawan dan mengabdikannya melalui penyebutan nama bandara. “Kok malah kita menolak, lebih-lebih bupati kok menolak,” tukasnya.

Syahdan menyarankan, bagi yang tidak setuju pergantin nama bandara yang termuat dalam SK Menteri Perhubungan itu silahkan gunakan mekanisme hukum yg ada di negara ini. “Jangan buat ribut jangan bikin onar. Apalagi menggunakan fasilitas negara untuk melawan negara,” pungkas putra asli Lombok Tengah itu.

No More Posts Available.

No more pages to load.