APES, begitulah nasip I, salah seorang kontraktor asal Jakarta. Niat ingin mendapatkan keuntungan proyek di Lombok Tengah, namun justru tak kunjung jua.
Oleh: Darwis – LOMBOK TENGAH
Uang “pelicin” proyek yang ia keluarkan ternyata tidak membuat urusannya beres. Proyek miliaran rupiah di salah satu dinas Lombok Tengah yang ia harapkan ternyata masih seret.
Padahal telah diberikan pelumas yang cukup banyak. Tidak tanggung tanggung, uang yang telah ia gelontorkan mencapai Rp 600 juta.
Parahnya, uang “pelicin” tersebut diduga mengalir ke oknum pejabat di Lombok Tengah tersebut. Uang diserahkan melalui salah seorang oknum inisial AW yang mengaku mendapat perintah dari pejabat yang bersangkutan.
Penuturan I, beberapa hari lalu, uang diberikan tiga tahap. Pertama, uang diberikan di Jakarta. Kepada dirinya, AW beralasan bahwa uang tersebut untuk menyelesaikan keperluan pejabat yang bersangkutan saat itu.
Tanpa pikir panjang, I kemudian memberikan uang Rp 250 juta kepada AW. Kepercayaan I kepada AW awalnya sangat besar. Pasalnya dialah yang mempertemukannya dengan oknum pejabat yang dimaksud.
Adapun AW diperkenalkan kepada dirinya oleh dua oknum mantan pejabat Lombok Tengah. Bahkan, saat bertemu dengan pejabat tersebut I diminta untuk mensuport, jika sewaktu-waktu ada kebutuhan.
Di hadapan I, oknum pejabat tersebut menunjuk jika segala urusan nantinya bisa dikomunikasikan dan diurus melalui AW.
Kembali ke pembahasan awal, setelah menerima Rp 250 juta, beberapa bulan kemudian AW kembali meminta uang Rp 350 juta kepada I.
Ia beralasan, uang tersebut untuk membiayai kegiatan oknum pejabat tersebut di Mataram. Sementara permintaan ketiga, AW meminta Rp 50 juta untuk keperluan oknum pejabat tersebut dan kembali disanggupi.
Permintaan uang oleh AW dengan mengatasnamakan pejabat tersebut, masih ia simpan rapi, termasuk bukti transfernya.
Bahkan kata dia, menjelang Idul Fitri AW sempat meminta dana utuk membeli 1000 sarung, namun tidak diberikan karena apa yang dijanjikan tak kunjung diberikan.
Kekesalannya kepada AW semakin besar ketika mengetahui proyek yang dimaksud justru diberikan kepada orang lain.
Sementara itu, oknum pejabat tersebut membantah pernah menerima uang dari I. Apa lagi meminta langsung maupun dengan perantara orang lain.
Diakuinya, ia memang pernah bertemu sekali dengan I, namun tidak pernah membahas proyek apalagi meminta uang.
Kalaupun ada permintaan uang, itu di luar sepengetahuannya dan pihaknya mengaku tidak bisa mempertanggungjawakan apapun.
“Silahkan tanya ke AW, kalau saya tidak ada masalah,” katanya via handphone, Rabu (18/05/2022).
Sementara itu, AW yang dikonfirmasi membenarkan telah menerima uang dari I. Namun uang tersebut murni bisnis dan tidak ada kaitannya proyek.
Pihaknya juga membantah telah mencatut atau memanfaatkan pihak lain dalam persoalan ini. Uang itupun sudah dikembalikan sesaat sebelum ia dikonfirmasi oleh wartawan.
“Ini murni bisnis dan saya tidak pernah membawa bawa nama orang lain,” jelasnya.
Setelah dikonfirmasi, I membenarkan telah menerima pengembalian Rabu siang kemarin sebesar Rp 220 juta. Malam harinya, ia kembali menerima transfer Rp 20 juta dari AW.
Kamis pagi, untuk ketiga kalinya menerima transfer Rp 50 juta. Sehingga dari total Rp 600 juta, yang sudah dikembalikan AW baru Rp 290 juta.
Ia berharap sisanya bisa diselesaikan dalam beberapa hari kedepan. Jika tidak, pihaknya mengancam akan membawa persoalan ini ke ranah hukum.





