Dr. Muhamad Ali Dorong Model Pendidikan Ekonomi Partisipatif Berbasis SDGs bagi UMKM KEK Mandalika

oleh -66 views
oleh
ali
Dr. Muhamad Ali, M.Si

LOMBOKSATU.com – Tim peneliti penerima Hibah Penelitian Fundamental Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 dari Universitas Hamzanwadi mengangkat tema Desain Model Pendidikan Ekonomi Partisipatif Berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) untuk Pemberdayaan UMKM Desa Lingkar KEK Mandalika dalam Kerangka Desa Berdaya.

Untuk memperkuat data riset, tim menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagai upaya menghimpun pandangan pemerintah daerah, pemerintah desa, ITDC Mandalika, pelaku UMKM, BUMDes, Pokdarwis, pengelola homestay, dan akademisi. Berbagai masukan tersebut akan menjadi dasar penyusunan model pendidikan ekonomi yang sesuai dengan karakteristik masyarakat desa penyangga KEK Mandalika.

Anggota tim peneliti, Dr. Muhamad Ali, M.Si mengatakan pemberdayaan UMKM memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif daripada sekadar pelatihan atau bantuan permodalan. Menurutnya, masyarakat perlu memperoleh pendidikan ekonomi yang membangun pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan ekonomi dan perkembangan sektor pariwisata.

“Pendidikan ekonomi partisipatif menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Masyarakat tidak hanya menerima program pemberdayaan, tetapi terlibat dalam merancang, melaksanakan, dan mengembangkan aktivitas ekonomi sesuai potensi desa masing-masing,” ujar Wakil Rektor III Unibersitas Hamzanwadi itu.

Ia menjelaskan pendekatan berbasis SDGs dipilih karena mampu mengintegrasikan dimensi pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan sosial, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu kerangka pembangunan desa. Melalui pendekatan tersebut, penguatan UMKM dapat berorientasi pada peningkatan pendapatan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Menurut Muhamad Ali, desa-desa di kawasan lingkar KEK Mandalika memiliki potensi besar pada sektor kuliner, kerajinan, jasa wisata, homestay, serta ekonomi kreatif. Potensi tersebut perlu didukung melalui model pendidikan ekonomi yang mendorong inovasi, kolaborasi, literasi kewirausahaan, dan penguatan kapasitas pelaku UMKM.

Selama FGD, peserta juga menyebut berbagai tantangan yang masih dihadapi UMKM, mulai dari keterbatasan akses pasar, rendahnya kapasitas manajerial, pemanfaatan teknologi digital yang belum optimal, hingga lemahnya jejaring kemitraan. Temuan tersebut menjadi masukan penting dalam penyempurnaan model yang sedang dikembangkan.

Muhamad Ali menegaskan model pendidikan ekonomi partisipatif dirancang tidak hanya sebagai luaran akademik, tetapi sebagai rekomendasi yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga pemberdayaan masyarakat.

“Kami ingin menghasilkan model yang mampu memperkuat kapasitas masyarakat sehingga UMKM desa dapat bertahan, berkembang, berdaya saing, dan mampu menjadi penggerak utama ekonomi lokal. Ketika masyarakat memiliki kapasitas yang kuat, manfaat pembangunan pariwisata akan dirasakan lebih merata oleh desa-desa di sekitar KEK Mandalika,” tegasnya.

Ia berharap hasil penelitian dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan pemberdayaan UMKM berbasis SDGs sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Melalui model tersebut, desa-desa lingkar KEK Mandalika diharapkan tumbuh menjadi desa berdaya dengan UMKM yang tangguh, inovatif, dan berkelanjutan.