Luncurkan Pengembangan Bawang Putih di Lotim: Mentan Targetkan Impor Dihentikan

oleh -307 views
oleh

LOMBOKSATU.com – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, melakukan kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Barat, khususnya di Kabupaten Lombok Timur, pada Senin (09/02/2026). Kunjungan tersebut dalam rangka peluncuran kesiapan pengembangan bawang putih menuju swasembada nasional.

Dalam kesempatan itu, Mentan secara tegas menargetkan NTB mampu mengelola minimal 25.000 hingga 50.000 hektar lahan bawang putih. Target tersebut diproyeksikan untuk menyuplai kebutuhan berbagai provinsi di Indonesia sekaligus menghentikan ketergantungan impor bawang putih dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

“Target kita adalah menghentikan impor dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Untuk swasembada, kita hanya butuh 100.000 hektar secara nasional. Bayangkan, lahan padi seluas 7,4 juta hektar saja bisa kita kelola, apalagi hanya 100.000 hektar. Saya yakin tugas ini bisa diselesaikan oleh Gubernur,” ujar Mentan optimistis.

Karena keseriusan dan kesiapan daerah, Pemerintah secara resmi menetapkan NTB sebagai pusat produksi bawang putih Indonesia. Mentan juga memuji langkah cepat Gubernur NTB dan Bupati Lombok Timur dalam merespons kebutuhan pangan nasional, khususnya komoditas bawang putih yang selama ini masih bergantung pada impor.

Menurut Mentan, potensi produksi bawang putih di NTB sangat menjanjikan. Rata-rata hasil panen mencapai 20 ton per hektar, bahkan di beberapa lokasi mampu menyentuh angka 28 ton per hektar. Dari sisi kualitas, bawang putih lokal NTB dinilai jauh lebih baik dibandingkan produk impor.

“Kualitasnya sangat bagus, bahkan melampaui barang impor. Karena itu, kami memusatkan program pemerintah di sini,” tambahnya.

Untuk mendukung target tersebut, Kementerian Pertanian akan meluncurkan program khusus dengan dukungan penuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk pengadaan bibit dalam skala besar. Pemerintah juga menyiapkan skema jaminan pasca-panen melalui penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) guna menjaga stabilitas harga dan melindungi petani dari kerugian.

“Negara yang akan menjamin. Kami akan buatkan HPP agar harga terjaga. Target kita jelas, tidak boleh ada petani yang rugi,” tegasnya.

Mentan juga menekankan pentingnya sistem pertanian terintegrasi, mulai dari ketersediaan pakan, sektor peternakan, hingga kestabilan harga jagung sebagai bagian dari fondasi ketahanan pangan daerah.

Kepada para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Mentan memberikan motivasi agar mengubah pola pikir dan menjadi teladan di lapangan. Ia mendorong PPL untuk memiliki kebun sendiri serta bekerja secara solutif dan proaktif.

“Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi pikirkan apa yang bisa kamu berikan untuk negara. PPL bisa jadi Menteri, Gubernur, atau Bupati jika mau bekerja keras,” pesannya.

Dalam kunjungan tersebut, Mentan meninjau langsung lahan jemur dan lahan tanam bawang putih serta berdialog dengan para petani dan PPL dari berbagai kabupaten di Pulau Lombok. Sejumlah persoalan yang disampaikan petani langsung diberikan solusi di lapangan.

Melalui target pengelolaan 25.000 hingga 50.000 hektar lahan di NTB, pemerintah optimistis provinsi ini akan menjadi motor utama swasembada bawang putih nasional dan mengakhiri ketergantungan impor secara bertahap.