Adopsi Metode Kampung Inggris Pare, Kades Mas-Mas Jamin Mahir Bahasa Asing

oleh -295 views
Peserta kursus bahasa Inggris saat berinteraksi dengan wisatawan mancanegara

KEMAMPUAN berbahasa asing sangat diperlukan dalam dunia pariwisata. Hal inilah yang diperjuangkan oleh Kepala Desa (Kades) Mas-Mas Kecamatan Batukliang Utara (BKU) H. Habiburrahman Yusuf melalui lembaga kursus yang telah dijalankan sejak belasan tahun lalu. Seperti apa lembaga kursus H. Habiburrahman, berikut ulasan LOMBOKSATU.com.

DARWIS – Lombok Tengah

Nama H. Habiburrahman Yusuf sudah tidak asing bagi para pegiat pariwisata. Selama ini pria yang sekarang menjabat sebagai Kepala Desa Mas-Mas Kecamatan Batukliang Utara tersebut sudah banyak berjasa memajukan pariwisata di wilayahnya. Salah satunya keberhasilannya adalah meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) masyarakatnya melalui pembelajaran bahasa asing.

Sebelum menjadi kepala desa, H. Habiburrahman banyak berkecimpung di dunia pariwisata. Sejak puluhan tahun lalu ia diketahui sudah banyak bergaul dengan para pegiat pariwisata, sehingga tidak heran ia memiliki jaringan yang sangat luas.

H. Habiburrahman selama ini dikenal sebagai sosok yang kratif. Ide atau gagasannya selalu brilian. Bahkan pembentukan Desa Wisata Mas-Mas merupakan satu dari sekian banyak keberhasilannya di bidang pariwisata.

Jejaring yang dimilikinya tidak semata untuk kepentingan pribadi, melainkan lebih banyak digunakan untuk masyarakat. Ia diketahui banyak melakukan kegiatan sosial yang berkaitan dengan pariwisata, salah satunya menyelenggarakan kursus bahasa Inggris dan Arab secara gratis.

Kursus bahasa Inggris dan Arab di rumah H. Habiburrahman sudah ada sejak tahun 2012, yang mana sejauh ini sudah tidak terhitung lagi jumlah siswa/siswi yang sudah lulus dan mahir berbahasa asing melalui kursus yang ia selenggarakan tersebut.

Kepada wartawan di kediamannya, Kamis (03/02/2021), H. Habiburrahman menuturkan, untuk kursus bahasa Inggris dijadwalkan Senin-Kamis mulai pukul 06.00 sampai dengan 07.00 Wita. Sebelum berangkat ke sekolah mereka terlebih dahulu mengikuti kelas bahasa di tempatnya.

“Jadi pagi buta mereka sudah ada di rumah dengan seragam sekolah untuk mengikuti kelas bahasa. Sekarang jumlah peserta kita sekitar 80 lebih,” kata H. Habiburrahman.

Kursus di tempatnya banyak mengadopsi metode pembelajaran di Kampung Inggris Pare Kediri, Provinsi Jawa Timur dengan kelas dibagi menjadi dua, yakni vocabulary dan language.

Untuk vocab siswa/siswi diharuskan menghafal minimal 500 suku kata. Setelah itu dilanjutkan dengan percakapan dengan bahasa Inggris. Di tahap ini peserta didik diwajibkan berbicara dengan teman maupun pengajar dengan bahasa Inggris. Bagi yang kedapatan menggunakan bahasa selain Inggris akan dikenakan sanksi, misalnya menyapu halaman dan lainnya.

Agar lebih fasih, pihaknya juga mendatangkan tamu wisatawan mancanegara untuk berinteraksi langsung dengan peserta didik.

Selama kunjungannya, turis akan dipandu oleh para siswa berkeliling desa dan melihat spot wisata dan keseharian masyarakat setempat.

Sedangkan untuk pembelajaran bahasa Arab dimulai dari hari Jumat sampai dengan Minggu. Bedanya, untuk kelas ini mereka diharuskan menginap. Selama tiga hari mulai dari pagi hingga malam mereka akan disibukkan dengan berbagai mata pelajaran. Mulai dari bahasa Arab, Tahfiz, Tilawah, kajian Qur’an Hadis dan lain-lain.

Dengan metode, jadwal, dan disiplin yang diterapkan selama ini, lama pembelajaran hingga mahir hanya memakan waktu empat bulan.

“Untuk pengajar kami datangkan dari luar dan beberapa orang adalah lulusan kami. Kalau sudah 4 bulan, kemampuan mereka Insya Allah sudah teruji,” terangnya.

Namun sampai saat ini pihaknya belum mendaftarkan kursusnya ke pemerintah daerah. Ia mengaku lebih nyaman kursus ini dilakukan secara lepas tanpa campur tangan pihak manapun. Alasannya tidak ingin membentuk lembaga pendidikan resmi tidak lain untuk menghindari anggapan negatif. Terlebih dengan posisinya sebagai kepala desa saat ini, dikhawatirkan akan menimbulkan isu negatif di kemudian hari.

Apa yang dilakukannya saat ini diniatkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada masyarakat. Dengan harapan para peserta didiknya nanti mampu mengambil peran dengan geliat pariwisata Lombok Tengah kedepan.

Untuk itu, dirinya mengajak semua pihak bersama sama mempersiapkan segala sesuatunya dalam menyongsong kemajuan di daerah ini sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sehingga masyarakat Lombok Tengah tidak menjadi penonton di daerah sendiri.

“Perhelatan MotoGP sudah di depan mata, mari kita persiapkan diri dengan sebaik mungkin,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.