Soal Program 10 Juta Sapi, Inilah Penjelasan DPP HKTI NTB Secara Rinci

oleh -526 views

LOMBOKSATU.com – Munculnya berbagai asumsi miring dari berbagai kalangan masyarakat soal program 10 juta sapi yang diluncurkan Dewan Pengurus Provinsi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPP HKTI) NTB baru-baru ini ditanggapi Sekretaris DPP HKTI NTB, Iwan Setiawan.

Dijelaskan Iwan Setiawan, program 10 juta sapi HKTI NTB merupakan program riil dengan tahapan perhitungan yang rinci. Bahkan dirincikan detailnya dalam draft perjanjian kerjasama antara HKTI NTB, PT. Karya Hoqi dan PT. Mineral Energi Mulia (MEM).

“Pertama HKTI NTB menandatangani kerja sama dengan PT. MEM yang tidak lain merupakan anak perusahaan dari PT. Karya Hoqi untuk mendatangkan sapi dari Australia,” ujarnya seraya menyebutkan, modal HKTI NTB itu bersumber dari PT. Karya Hoqi. Lalu ada kontrak kedua yaitu kontrak kerjasama antara HKTI NTB dengan PT. Karya Hoqi.

Pada kontrak kedua, PT Karya Hoqi berkewajiban untuk membeli kembali kepada HKTI NTB dalam bentuk daging yang sudah dipotong, dan PT. Karya Hoqi selaku pembeli memasarkannya ke pasar yang sudah jelas, yaitu pangsa pasar Timur Tengah.

“Jadi dua kontrak, pertama kontrak PT. MEM dengan HKTI NTB untuk pembelian sapi. Kedua, dana HKTI NTB berasal dari PT Karya Hoqi. Kemudian nanti sapi yang dikelola oleh HKTI NTB ini, dibeli kembali oleh PT Karya Hoqi dalam bentuk daging yang siap diekspor ke Timur Tengah,” ujar Iwan dalam rilisnya, Jumat (23/10/2020).

Memperjelas posisi HKTI NTB dalam sistem itu kerjasama itu, terutama terkait dengan permodalan, Iwan menjelaskan, modal awal ini telah ada kerja sama dengan PT Karya Hoqi. “Jadi PT Karya Hoqi menaruh modalnya secara sah di rekening HKTI NTB untuk dijadikan modal bagi HKTI membeli sapi kepada PT MEM. Perlu diketahui juga PT MEM ini adalah anak perusahaan dari PT Karya Hoqi. Jadi, direktur utamanya satu, yaitu Haji Bachtiar,” imbuhnya.

Iwan juga menegaskan, kontrak kerja sama antara HKTI NTB dengan PT MEM secara jelas tertulis dalam draf kerja sama kedua belah pihak. Dan HKTI NTB akan di dropkan 10 juta sapi secara bertahap dalam jangka waktu 5 tahun dengan catatan jika tidak cukup 5 tahun, maka HKTI NTB diberikan waktu tambahan. Adapun secara rinci jumlah sapi pet tahun didrop sebanyak 600 ribu ekor.

“Angka 10 juta ekor sapi yang diberikan kepada HKTI NTB itu merupakan jumlah kuota yang diberikan oleh Kementerian Pertanian RI kepada PT. Karya Hoqi untuk memenuhi pasar ekspornya ke Timur Tengah. Artinya PT Karya Hoqi melimpahkan seluruh kuotanya untuk HKTI NTB,” imbuhnya.

Lebih lanjut, HKTI NTB akan membeli sapi dari anak perusahaan PT Karya Hoqi yaitu PT MEM sebanyak jumlah kuota tersebut. “Jadi dari Australia didatangkan ke NTB, dari NTB dipelihara 3 bulan, seterusnya disembelih di Lombok, dipacking di Lombok, baru diekspor ke Timur Tengah dan berbagai negara,” paparnya.

Dijelaskan Iwan, apabila 10 juta sapi itu tidak mampu dikelola oleh HKTI NTB dalam waktu 5 tahun yang telah ditetapkan, maka HKTI NTB telah mengantisipasi kemungkinan itu dengan menjalin kerjasama dengan DPP HKTI Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk penyediaan lahan ternak.

“Jadi 10 juta itu, ketika tidak cukup di NTB kita akan lari ke NTT, karena bekerja sama dengan PT Karya Hoqi ini tidak mutlak di Lombok dan Sumbawa, kami juga sudah menyiapkan lahan di wilayah NTT, bekerjasama dengan DPP HKTI Nusa Tenggara Timur,” tegasnya.

Tidak Benar 10 Juta Sekaligus

Iwan membantah, tidak benar jika akan didatangkan langsung secara bersamaan sebanyak 10 juta sapi ke NTB atau 1 juta sapi ke Lombok Timur dalam satu waktu dan tempat yang sama. Malah menurutnya hal itu merupakan suatu kemustahilan.

“Tidak benar dan tidak mungkin 10 juta sapi ke NTB atau 1 juta untuk Lombok Timur sekaligus. Itu mustahil. Tapi akan dijalankan bertahap. Jadi tidak ada hal-hal yang aneh di sini, tidak ada hal-hal yang tidak masuk akal, jadi prosedurnya pun sangat gampang. Jadi kita HKTI NTB mencari peternak yang betul-betul peternak,” sebutnya.

Dirinya juga menyatakan jika saat ini, pihaknya di HKTI NTB akan berupaya maksimal mendatangkan 25 ribu ekor sapi di triwulan ke lV atau sampai akhir tahun 2020, sembari menunggu normalnya prasarana dan sarana serta aktivitas Pelabuhan Pelindo ll Gili Mas Lombok Barat.

“Nah kami berupaya 25.000 ekor untuk tahun 2020, sisa akhir tahun ini didatangkan diakhir tahun ini, nanti 2021 berlaku normal, menunggu normalnya Pelabuhan Pelindo ll yang ada di Gili Mas,” katanya sembari mengatakan, nanti kalau dalam keadaan normal, dalam satu bulan akan dilakukan pengiriman sapi dari Australia ke NTB sebanyak 50 ribu ekor sapi.

“Muatan 1 kapal 25 ribu ekor, kalau normal nantinya, nah harapannya setiap bulan itu 2 kapal, berarti rata-ratanya 50 ribu ekor sapi per bulan. Itu normalnya,” tegas Iwan Setiawan. Ia juga menjelaskan secara rinci terkait pola binaan bagi peternak yang akan menerima program HKTI NTB ini.

“Sistemnya juga bukan “ngadas” yang kadang keuntungannya dibagi 3. Namun peternak itu akan mendapatkan keuntungan pasti, yaitu 100 persen dari berat lebih sapi pada penimbangan awal/bibit yang diterima,” paparnya.

Diprioritaskan Bagi Peternak Profesional
Iwan menjelaskan, prioritas yang dituju dari program ini adalah orang yang betul-betul berprofesi sebagai peternak, baru ke pola lain dengan berkerjasama dengan pondok pesantren.

“Program ini diprioritaskan untuk peternak atau orang-orang yang ingin belajar menjadi peternak. Nah setelah itu terealisasi, baru kita beralih ke pondok-pondok pesantren, karena tidak mungkin dipelihara oleh seluruh masyarakat kita yang bukan peternak. Memelihara sapi ini butuh ketekunan dan keuletan,” ungkapnya.

Ia kembali menegaskan, program sapi ini tidak mungkin akan diberikan kepada orang yang tidak memiliki keahlian, karena ada konsekuensi masing-masing, baik itu penerima program (peternak) atau HKTI NTB sendiri.

“Jadi tidak bisa kita berikan kepada guru di pondok pesantren dan masyarakat yang tidak punya keahlian berternak sapi. Nanti mereka demam panggung, seolah-olah ini seperti sapi bantuan hibah. Rugi kita,” tegasnya.

Dalam menjalankan program ini kata dia, semua memiliki tanggung jawab masing-masing. Peternak memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan menambah berat sapi yang dipelihara, semakin rajin, semakin besar maka semakin banyak keuntungan.

Harga Daging Rp. 55 Ribu

Disebutkan, untuk harga daging sapi yang akan dibeli oleh PT Karya Hoqi kepada peternak binaan HKTI NTB sudah tercantum dalam nilai kontrak yakni Rp 55 ribu per kilogram dari berat hidup sapi per ekor.

“Untuk harganya, kita mengacu harga dunia dan tertera di kontrak yaitu 55.000 per kilogram berat hidup. Jadi sangat tinggi, di atas rata-rata angka berat hidup sapi lokal. Jadi untuk itulah kami harapkan kepada seluruh masyarakat peternak untuk mempersiapkan diri,” harapnya.

Hal lain yang tidak luput dari perhatiannya adalah soal ketersediaan pakan dan kualitas kandang. Dari itu HKTI NTB akan memberikan bantuan modal awal kepada peternak, sesuai dengan jumlah sapi yang akan digemukkan oleh peternak bersangkutan untuk biaya pakan dan pemeliharaan kandang.

“Termasuk yang paling penting ketersediaan pakan di wilayah setempat, tidak bisa serta-merta kita taruh sapinya kalau pakannya tidak ada, karena ada dua jenis pakannya. Ada pakan permentasi ada pakan alami berupa tanaman hijau rerumputan yang harus dicari oleh peternak.

Menyikapi itu HKTI menyediakan modal awal bagi peternak. Modal awal di HKTI itu untuk pembelian pakan dan untuk pemeliharaan kandang, sesuai dengan ternak sapi yang diterimanya.

Ia juga memastikan jika tidak ada praktek pungutan dari awal sampai akhir bagi peternak dalam program HKTI NTB ini. Bahkan jika ada temuan yang kurang baik nanti, ia meminta untuk segera dilaporkan ke HKTI.

Program Ini Gratis, dan Jika Kurang Jelas? Datangi HKTI

Iwan juga mengaskan, program ini gratis alias tidak ada pungutan biaya satu rupiah pun terhadap peternak. “Kalau ada yang mengatasnamakan HKTI memungut dana untuk program ini tolong laporkan kepada kami, karena sampai proses penjualanpun tidak ada pungutan peternak,” tegas pria populer disapa Iwan Giok itu.

Oleh karena itu, siapa saja boleh mengakses program ini, yang penting dia peternak atau mau belajar berternak, serta memiliki kandang dan ketersedian pakan di lokasi masing-masing. Jika kurang jelas ia berharap untuk langsung datang ke pengurus HKTI NTB atau Lotim untuk bertanya.

Atas penjelasannya itu, dirinya meminta bantuan kepada media agar mensosialisasikan program ini secara utuh. Agar tujuan dan maksud dari program ini diketahui utuh oleh masyarakat, serta menghindari cemoohan atau pesimisme pihak yang tidak memahami program ini.

“Kepada rekan-rekan media juga kami mengharapkan bantuannya, untuk menyampaikan informasi ini secara utuh kepada masyarakat secara utuh, dan kepada para pihak yang masih mempertanyakan program ini. Karena tujuan program HKTI ini riil, nyata untuk mensejahterakan masyarakat NTB, Lombok Timur pada khususnya,” tutupnya.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.