Rektor UNHAM: Sarjana Harus Hadir Sebagai Problem Solver

oleh -229 views
Hj. Sitti Rohmi Djalilah

LOMBOKSATU – Sebanyak 983 Mahasiswa Universitas Hamzanwadi (Unham) dengan berbagai disiplin keilmuan akan diwisuda Sabtu (07/12/2019). Hari ini, calon wisudawan dan wisudawati mengikuti gladi bersih di Gelanggang Olahraga Hamzanwadi.

Rektor Universitas Hamzanwadi, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengingatkan, setelah menjadi sarjana akan menghadapi berbagai tantangan. Permasalahan masyarakat pada semua bidang semakin bertambah dan rumit. Konteks ini harus diterima sebagai kewajaran kondisi masyarakat yang bercita-cita menjadi lebih baik dan maju. Para sarjana harus berpikir berbeda dalam menyikapi kondisi yang berkembang.

“Masalah tidak menjadikan masing-masing mengeluh dan menyerah dengan keadaan. Justru, masalah menjadi keniscayaan konteks global menuju masyarakat maju. Sarjana harus hadir sebagai problem solving dari setiap masalah, dan bukan menjadi bagian dari masalah itu sendiri,” papar Umi Rohmi dalam keterangan persnya, Jumat (06/12/2019).

Disebutkan, dinamika global yang berpengaruh terhadap demografi dan geografi dengan seluruh konteksnya, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka telah memaksa untuk membangun konstruksi pikiran baru, bahwa relasi angkatan kerja dan dunia kerja di negara kita, di daerah kita berbeda dengan fenomena di belahan bumi lain.

“Dengan berbagai alasan domestik dan publik, peradaban lain dihadapkan pada kondisi kekurangan tenaga kerja, sedangkan kita berhadapan dengan konteks kekurangan lapangan kerja. Secara teknis, mereka memerlukan in-service training ketika sudah memasuki dunia kerja, sedangkan kita memerlukan pre-service training sebelum memasuki dunia kerja. Salah satu bentuk pre-service training tersebut adalah seluruh agenda akademik dan non akademik melalui institusi yang kita kenal dengan kampus,” ulasnya.

Pada tingkat lokal-nasional, lanjut Umi Rohmi, beberapa masalah yang hadapi seperti melemahnya daya dukung lingkungan (fisik-non fisik) terganggunya kohesivitas sosial, limbah plastik, efek negatif teknologi informasi, human traficing, pernikahan usia anak, stunting, ketimpangan daya beli masyarakat, lemahnya inovasi teknologi dalam industri kreatif masyarakat, melemahnya komitmen kebangsaan, dan lain-lain.

“Dalam konteks makro menjadi persoalan bersama dan harus dielaborasi, selanjutnya dicarikan solusi. Dalam perspektif metodologis, persoalan-peroslan di atas adalah masalah, dan kita semua bertanggung jawab untuk ikut menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Inilah bentuk dari masalah sebagai tantangan untuk maju dan terus berkreasi,” ulas Umi Rohmi yang mendapatkan penghargaan Wanita Inspiratif Indonesia 2019 versi IPEMI.

No More Posts Available.

No more pages to load.