Pariwisata Loteng Semakin Terpuruk, Pemkab Diminta Segera Bertindak

oleh -158 views
Ketua Mandalika Hotel Asocoation Syamsul Bahri

LOMBOKSATU.com – Sektor pariwisata di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) Provinsi Nusa Tenggara Barat saat ini dinilai semakin terpuruk. Menyikapi hal itu, pemerintah kabupaten (Pemkab) diharapkan segera bertindak untuk memberikan solusi.

Ketua Mandalika Hotel Asocoation (MHA) Syamsul Bahri kepada wartawan, Senin (24/05/2021) menuturkan, kunjungan wisatawan mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Penginapan yang sebelumnya, sudah mulai ramai kembali sepi. Bahkan beberapa hotel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika berpotensi tutup akibat pandemi covid-19 yang tidak kunjung selesai.

Bayangkan saja kata Samsul, di kondisi normal, rata-rata hotel di Kuta memperoleh 300 sampai 600 juta per bulan. Namun sekarang nyaris tidak ada pemasukan.

Jika tidak segera disikapi pemerintah, pihaknya bisa memastikan akan banyak usaha di sektor ini yang akan gulung tikar.

Untuk itu, pria yang menjabat sebagai manager salah satu hotel di Kuta Mandalika tersebut berharap agar pemerintah daerah dan kepolisian dapat memberikan solusi yang solutif agar Lombok Tengah dapat kembali bangkit ditengah pandemi covid-19.

“Kami berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah dan pihak kepolisian untuk menyikapi persoalan ini,” kata Syamsul via telepon.

Lebih lanjut ia menjelaskan, kondisi yang terjadi saat ini tidak hanya mengakibatkan anjloknya perekonomian, tapi berpotensi menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Ia mencontohkan, ancaman meningkatkannya kriminalitas akibat banyaknya pengangguran dan masih banyak lagi dampak negatif yang bisa timbul akibat kondisi saat ini.

Hal senada juga diungkapkan General Manager Tunak Cottages Rata Wijaya menjelaskan, pendapatan di musim pandemi ini nyaris tidak ada. Akibatnya para pengelola hotel terpaksa berhutang untuk memenuhi biaya operasional dan gaji karyawan.

“Kita sudah bangkrut. Kami mau tutup kasihan karyawan. Ini tentu harus dicarikan jalan keluar,” harapnya.

Sementara itu beberapa pegawai hotel yang dimintai keterangan mengeluhkan penutupan tempat wisata oleh Pemkab Lombok Tengah. Hal tersebut menyebabkan beberapa acara yang sudah di-booking harus dibatalkan.

“Kita mendapat beberapa bookingan acara di sini, tapi terpaksa dicancel karena ada penutupan tempat wisata. Padahal kami sudah memegang sertifikat CHSE,” tuturnya.

Selain itu, staf atau karyawan juga sudah melakukan vaksinasi. “Pembatasan juga kami lakukan di hotel, tapi ternyata tempat wisata malah ditutup, sehingga tamu batal untuk datang kesini,” tuturnya.

Untuk itu pihaknya juga berharap kepada pemerintah agar segera bertindak dan melakukan upaya nyata guna memulihkan pariwisata di daerah sehingga geliat ekonomi dan pembangunan kembali normal walaupun di tengah pandemi. (Dar)

No More Posts Available.

No more pages to load.