Kemendikbud Pusatkan “Pena Bangsa” di Pesantren NW Pancor

oleh -127 views

LOMBOKSATU – Memperkuat karakter bangsa melalui bidang kesejarahan, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI pada tahun 2019 ini menyelenggaran kegiatan Penguatan Nilai Kebangsaan di Pesantren (Pena Bangsa) di Pondok Pesatren NW Pancor.

“Kegiatan ini digagas dengan kesadaran bahwa nilai-nilai kebangsaan harus terus diperkuat untuk mengokohkan ikatan kebangsaan yang beragam demi kemajuan. Kegiatan dimaksudkan bahwa semangat kebangsaan yang dinafasi oleh nilai dan tradisi pesantren dapat menjadi modal dan model untuk menguatkan karakter kebangsaan bagi generasi penerus,” ujar Humas YPH-PPD NW Pancor, Dr. Muhammad Halqi.

Kegiatan yang diikuti oleh 7000 peserta terdiri santri, kiai, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan ini, akan dilaksanakan pada 21-24 Oktober 2019 di Pondok Pesantren Darunnahdlatain Nahdlatul Wathan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dengan tema Pesantren dan Nilai Kebangsaan: Merawat Ingatan Sejarah untuk Memperkokoh Keindonesiaan.

“Rangkaian kegiatan terdiri dari halaqoh kebangsaan, lomba esai kebangsaan, pameran kesejarahan, pemutaran film inspiratif, dan pojok sejarah. Halaqoh Kebangsaan yang mendiskusikan narasi sejarah dan tradisi kebangsaaan di pesantren ini dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2019,” jelas Halqi dalam siaran pers yang diterima LOMBOKSATU.com, Selasa [22|10|2019].

Beragam acara yang didesain dalam kegiatan Pena Bangsa ini menjadi bagian dari kontribusi (legacy) pesantren dari masa ke masa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menanamkan nilai-nilai toleransi sangat signifikan dalam mempersatukan kehidupan masyarakat.

“Pesantren yang menampilkan wajah Islam yang tawassuth (memilih jalan tengah), tasamuh (toleran), dan tawazun (menjaga keseimbangan) memberikan kontribusi penting dalam pembentukan bangsa-negara Indonesia sejak masa prapenjajahan, penjajahan, perjuangan kemerdekaan, proklamasi kemerdekaan, masa pascakemerdekaan sampai masa kontemporer,” jelas Halqi yang juga dosen pasca sarjana Universitas Hamzanwadi itu.

Oleh karena itu, sebut halqi, dalam setiap periode sejarah bangsa Indonesia, tradisi pesantren selalu dapat mengambil peran yang penting. Mudahnya demokrasi tumbuh di Indonesia—yang kini menjadi negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat—salah satunya adalah ditopang oleh Islam Indonesia yang berwajah tawassuth, yang inklusif, akomodatif, toleran dan menerima UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai final.

No More Posts Available.

No more pages to load.